INTERAKSI.CO, Moskow – Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan kapal induk terbesar dan tercanggihnya, USS Gerald R. Ford, dari Laut Karibia menuju kawasan strategis tersebut.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran, khususnya terkait kebuntuan diplomasi nuklir Iran.
Menurut laporan The New York Times, kapal induk USS Gerald R. Ford beserta armada pengiringnya akan bergabung dengan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln yang saat ini telah lebih dulu beroperasi di Teluk Persia.
Penempatan dua kelompok tempur kapal induk sekaligus dinilai sebagai sinyal keras kesiapan militer Amerika Serikat menghadapi eskalasi konflik di kawasan.
Baca juga: Trump Tegaskan Tak Akan Gunakan Kekerasan untuk Kuasai Greenland
Sebelumnya, The Wall Street Journal juga melaporkan bahwa Pentagon telah memerintahkan satu kelompok tempur kapal induk tambahan untuk bersiap dikerahkan ke Timur Tengah.
Awak USS Gerald R. Ford disebut telah menerima pemberitahuan resmi terkait perubahan misi tersebut sejak Kamis lalu.
Penugasan kapal induk ini sejatinya sempat dijadwalkan berakhir pada awal Maret 2026, namun kini diperpanjang seiring memburuknya situasi geopolitik.
Pada awal Januari, pesawat tempur dari USS Gerald R. Ford juga dilaporkan terlibat dalam operasi militer di kawasan Amerika Latin, menunjukkan fleksibilitas peran kapal induk tersebut dalam berbagai skenario global.
Peningkatan kehadiran militer AS ini terjadi bersamaan dengan pernyataan tegas Presiden Donald Trump.
Trump memperingatkan bahwa jika Iran gagal mencapai kesepakatan dengan Washington, Amerika Serikat akan memasuki “fase dua” tindakan yang disebutnya akan sangat keras bagi Teheran.
Para analis menilai pengerahan USS Gerald R. Ford bukan sekadar langkah pertahanan, melainkan bentuk tekanan strategis agar Iran kembali ke meja perundingan. Dengan dua kapal induk aktif di kawasan, Amerika Serikat memperlihatkan kesiapan penuh menghadapi segala kemungkinan, baik melalui jalur diplomasi maupun opsi militer.





