INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Pria itu mengenakan batik. Jalannya tenang saat memasuki Gedung Balairung Sari di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Senin (28/9/2026) pagi.
Usianya mungkin 50-an, dengan gurat wajah tegas yang mengingatkan pada sosok yang terpampang di salah satu banner Arkais Festival hari itu.
Banner itu bergambar seorang penyair yang hampir terlupakan dalam jejak perpuisian Kalimantan Selatan. Namanya Mas Husaini Maratus. Belum ada satu pun bukunya yang terbit. Puisi-puisinya bertebaran entah di mana. Dan pria berbatik itu, H.M. Yatrin, adalah anaknya.
Ia duduk di meja yang telah disiapkan, menghadap penonton yang didominasi anak muda. Lalu ia mulai bercerita tentang sang ayah. Seorang penyair yang, menurutnya sendiri, punya kebiasaan menulis di kertas apa saja yang kebetulan kosong di tangannya.
“Beliau suka sekali menulis pakai pulpen pelikan, dengan tinta warna hijau,” tutur Yatrin.
Kebiasaan itulah yang membuat karya sang ayah tersebar ke mana-mana dan sulit dikumpulkan kembali. Yatrin sendiri menaksir jumlah puisi ayahnya mungkin lebih dari seribu buah.
“Jika bisa ditemukan, bisa lebih seribu,” ungkapnya.
Kisah semacam ini bukan hal asing dalam sejarah sastra Indonesia. Betapa banyak karya penyair-penyair daerah yang lahir dan mati tanpa sempat dibukukan.
Yang membedakan Mas Husaini Maratus adalah bahwa jejaknya kini coba ditelusuri kembali, puluhan tahun setelah kepergiannya, oleh sebuah komunitas sastra muda di tanah kelahirannya sendiri.





