Dari Ruang Rawat ke Markas Revolusi

Mas Husaini Maratus lahir di Kandangan pada 25 April 1927, anak dari pasangan H. Mas Said dan Hawayah. Jejak hidupnya justru dimulai bukan dari dunia sastra, melainkan dari ruang rawat.

Pada 1947, ia bekerja di rumah sakit sebagai juru rawat. Di sela tugasnya itu, ia diam-diam mengumpulkan obat-obatan dan alat kesehatan sisa milik pasien yang telah meninggal dunia, lalu mengirimkannya ke pedalaman untuk para pejuang revolusi.

Ketika Revolusi Fisik 1945-1949 berkecamuk, ia turut ambil bagian secara langsung. Ia ditempatkan di Sektor Hulu Sungai, Markas 13 Divisi IV ALRI Kalimantan, di Lampihong, dengan H. Gurdan Hadi sebagai ketua markas dan dirinya sendiri, Husein (nama kecil Mas Husaini Maratus), menjabat sekretaris.

Setelah Kemerdekaan Kalimantan diproklamasikan pada 17 Mei 1949 di Kandangan oleh Letnan Kolonel Hasan Basri, ada keinginan dalam dirinya untuk melanjutkan ke sekolah militer. Namun sang ibu, Hawayah, tidak mengizinkan.

Jalan hidupnya pun berbelok. Ia masuk Sekolah Guru Bantu, dan sejak saat itu resmi menjadi guru sekolah dasar.

Guru, Fotografer, dan Wartawan Dadakan

Karier mengajarnya dimulai di SDN Kusambi, sebelum berpindah ke SDN Lampihong Kiri. Di Lampihong ini pula ia mempersunting Siti Bahrita dan menetap, hingga akhirnya menjabat kepala sekolah di tempat yang sama.

Di luar dunia mengajar, ia juga merangkap sebagai fotografer, sebuah pekerjaan sampingan yang lahir dari kebutuhan zaman. Saat itu, seluruh penduduk diwajibkan membuat KTP, yang mengharuskan setiap orang punya pas foto.

Hampir seluruh penduduk sekitar akhirnya berfoto di studio kecilnya, yang ia beri nama “Photo Grafer Kenangan Masa”.

Di tengah kesibukan sebagai guru sekaligus fotografer itu, ia masih menyempatkan diri mengirimkan tulisan-tulisannya ke Harian Merdeka. Jejak paling awal ini jadi hasratnya menulis yang kelak menjadi bagian besar hidupnya.

Dari Paringin Kembali ke Lampihong

Pada 1955, ia pindah ke Paringin, sebuah keputusan yang diambil setelah situasi keamanan di Lampihong memburuk akibat munculnya gerombolan perampok dan aksi pembunuhan.

Baru setelah keadaan dirasa kembali aman, ia pulang ke Lampihong.

Namun masa singkatnya di Paringin justru meninggalkan jejak yang tak kalah berarti. Di sana, ia mendirikan grup musik keroncong, dengan sebagian besar pemainnya berasal dari anggota Brimob yang sedang bertugas di wilayah itu.

Ia juga aktif secara politik sebagai salah satu tokoh yang mengusulkan pembentukan Kabupaten Balangan pada 1955, bersama dengan Tabalong.

Di sela semua kesibukan itu, ia bahkan sempat menorehkan prestasi olahraga. Ia pernah menjadi juara bulu tangkis se-Balangan, sebuah hobi yang ia tekuni berdampingan dengan sepak bola.

Pada rentang 1962 hingga 1966, ia menjabat Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) cabang Lampihong. Jabatan itu terpaksa ia lepas begitu aturan baru diberlakukan: pegawai negeri sipil dilarang berafiliasi dengan partai politik.

Kariernya sebagai kepala sekolah kemudian membawanya berpindah-pindah lagi. Pada 1968, ia dipindahkan ke Tanjung sebagai kepala sekolah SDN Rumbia Pangkalan, lalu SDN Masukau Murung Pudak, dan terakhir SDN Hikun.

Pada 1972, ia kembali berpindah, kali ini ke Amuntai, sebagai kepala sekolah SDN Patarikan, sebelum akhirnya menetap di SDN Candi Agung Amuntai hingga masa pensiunnya.

Amuntai dan Seribu Puisi

Amuntai menjadi babak paling produktif dalam hidup kepenulisannya. Di kota ini ia menjadi sangat aktif menulis puisi, bergabung dengan sesama sastrawan setempat untuk mendirikan sebuah sanggar sastra. Kalau tidak keliru, Yatrin menyebutnya sebagai Sanggar Sastra Sukmaraga Amuntai.

Yang membuat Amuntai begitu berarti dalam perjalanan kreatifnya bukan cuma soal komunitas, tapi juga tekad pribadinya yang nyaris keras kepala. Ia bertekad menulis hingga mencapai seribu buah puisi, dan tekad itu tidak surut bahkan ketika tubuhnya sudah mulai sakit.

Di luar puisi, ia juga dikenal sebagai sosok yang serba bisa dalam dunia kesenian.

Ia pernah mendirikan pendidikan musik keroncong, dan pada 1964 aktif dalam kegiatan drama atau sandiwara bersama Kelompok Kelana Ria.

Nyanyian Si Penyair

Dari sekian banyak kenangan tentang ayahnya, ada satu momen yang paling membekas bagi Yatrin.

Momen itu terjadi ketika sang ayah menyanyikan “Sejarah Kalimantan”, lagu ciptaannya sendiri, sambil memainkan gitar. Air mata menetes saat itu.

“Beliau betul-betul meresapi, sampai nangis meler. Saya juga pengin nangis. Makanya (lagu) saya simpan saja. Hari ini saya putar lagi,” kenang Yatrin di depan penonton.

Ada satu amanah lain yang akhirnya bisa ia akan tunaikan, yakni menerbitkan karya sang ayah. Yatrin menyampaikan terima kasihnya kepada Komunitas Arkalitera yang berkenan menerbitkan buku kumpulan puisi Mas Husaini Maratus, yang rencananya akan diberi judul Ulat Dalam Batu.

“Ini amanah bapak saya. Katanya kalau ada rezeki, tolong puisinya dibukukan,” ujarnya. Ia berharap buku itu kelak bisa menjadi cermin bagi generasi mendatang.

Dari sudut pandang kritik sastra, penyair Banjarmasin Micky Hidayat menilai gaya puisi Mas Husaini Maratus tergolong konvensional, sesuai dengan angkatan zamannya.

“Kebanyakan tema yang diangkat dalam puisinya itu religius. Tema seperti kritik sosial agak jarang,” ucapnya.

Micky mengakui, arsip mengenai jejak perjalanan hidup Mas Husaini Maratus masih sangat minim. Karena itu, menurutnya, langkah Arkalitera menerbitkan buku ini patut diapresiasi. Apalagi sosok ini disebutnya sebagai tokoh penting dalam bidang kesenian.

Ia bahkan menyayangkan upaya semacam ini tidak lebih dulu dilakukan oleh pemerintah daerah setempat, dalam hal ini Kabupaten Hulu Sungai Utara, misalnya lewat momentum Aruh Sastra ke-23.

“Salut dengan upaya Arkalitera sudah mau menerbitkan karya-karya beliau yang terpendam,” katanya.

Sementara itu, sastrawan Ali Syamsudin Arsi melihat diskusi tentang sosok Husaini Maratus sebagai pembelajaran penting, terutama dalam melacak jejak penyair-penyair lampau yang masih kurang mendapat sorotan.

“Mas Husaini Maratus memang layak diangkat ke permukaan, karena andil beliau bukan cuma di puisi, tapi juga bagaimana beliau bergelut dengan perjuangan di waktu itu,” jelasnya.

Ia menilai, mengangkat sosok semacam ini di sebuah festival sastra yang pesertanya didominasi anak muda adalah langkah yang perlu terus “diberi bensin”.

“Harapannya nanti kegiatan seperti ini bisa berkembang, dan berkolaborasi dengan peserta-peserta lain,” tandasnya.

Mas Husaini Maratus meninggal dunia pada 20 September 1985, akibat sakit kanker rektum. Tak ada buku yang sempat terbit semasa hidupnya.

Yang tersisa hanya kertas-kertas yang tercecer, ditulis dengan pulpen pelikan bertinta hijau, di mana pun kertas kosong itu berada.

Sekadar diketahui, Arkais Festival digelar hingga 30 September. Selain diskusi buku, para peserta juga akan mengikuti beragam pelatihan menulis, mulai dari puisi, esai, hingga cerpen.

Program tersebut merupakan hasil gawe Arkalitera bersama Kementerian Kebudayaan melalui Program Penguatan Komunitas Sastra. Dari sekian banyak komunitas yang mengajukan, Arkalitera terpilih bersama total 16 komunitas di seluruh Indonesia untuk menggelar festival sastra.

Dalam keterangan resminya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan komunitas sastra di berbagai penjuru Indonesia merupakan penggerak utama ekosistem sastra, penghubung antara karya dan pembaca, ruang tempat lahirnya penulis-penulis muda, sekaligus wadah berkembangnya beragam wacana sastra.

“Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat ekosistem sastra Indonesia, salah satunya dengan mendorong komunitas-komunitas sastra di Indonesia untuk terus tumbuh dan berkembang seiring zaman. Dengan demikian, sastra sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan bisa berperan optimal sebagai sarana mencerdaskan bangsa,” pungkasnya.

Author