INTERAKSI.CO, Iran – Kabar mengejutkan datang dari Teheran. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia setelah serangan gabungan yang disebut melibatkan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu 28 Februari 2026.
Stasiun televisi pemerintah Iran dan kantor berita resmi Islamic Republic News Agency melaporkan wafatnya Khamenei tanpa merinci penyebab maupun kronologi lengkap kejadian.
Bersamaan dengan pengumuman tersebut, pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari di seluruh wilayah Iran.
Informasi mengenai serangan yang diduga menargetkan sejumlah titik strategis di Iran langsung memicu perhatian dunia internasional. Hingga kini, detail resmi terkait lokasi dan dampak langsung serangan masih terbatas.
Baca juga: Amerika Serikat Kerahkan Kapal Induk Terbesar ke Timur Tengah
Sebelum kabar ini beredar, Khamenei berulang kali menegaskan bahwa kematian adalah konsekuensi yang telah ia perhitungkan di tengah ketegangan regional. Ia menyatakan bahwa wafatnya dirinya tidak akan melemahkan struktur pemerintahan Iran. Dalam beberapa pidato terakhirnya, ia bahkan disebut telah mempersiapkan negara menghadapi kemungkinan perang panjang sekaligus proses suksesi kepemimpinan.
Khamenei memimpin Iran sejak 1989 dan menjadi figur sentral dalam arah politik, militer, serta kebijakan luar negeri negara tersebut. Di bawah kepemimpinannya, Iran memainkan peran penting dalam dinamika geopolitik Timur Tengah.
Jika laporan ini terkonfirmasi secara menyeluruh, wafatnya Khamenei berpotensi menjadi titik balik besar dalam politik Iran dan kawasan. Proses transisi kepemimpinan, stabilitas domestik, serta respons internasional akan menjadi faktor krusial dalam beberapa waktu ke depan.
Situasi masih berkembang dan dunia menunggu kejelasan lebih lanjut dari otoritas resmi Iran mengenai detail peristiwa serta langkah lanjutan yang akan diambil pemerintah.





