INTERAKSI.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia pada 2025 mencapai Rp83,7 juta atau setara USD 5.083,4.

Angka ini menjadi salah satu indikator penting untuk membaca kondisi ekonomi nasional sekaligus menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum.

PDB per kapita merupakan ukuran statistik yang diperoleh dengan membagi total PDB suatu negara dengan jumlah penduduk.

Indikator ini sering digunakan untuk melihat rata-rata pendapatan nasional, namun perlu dipahami bahwa PDB per kapita bukanlah gaji yang diterima setiap individu.

Baca juga: OTT KPK Jerat Ketua PN Depok, KY dan MA Perkuat Komitmen Antikorupsi

BPS menegaskan bahwa PDB per kapita mencerminkan nilai rata-rata dari seluruh aktivitas ekonomi, bukan pendapatan riil masyarakat secara langsung.

Di dalamnya tercakup berbagai komponen, mulai dari konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, pajak, hingga keuntungan usaha dan sektor keuangan. Artinya, tidak semua nilai tersebut masuk ke kantong pekerja atau rumah tangga.

Berdasarkan perhitungan BPS, rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia pada 2025 diperkirakan berada di kisaran Rp6,9 juta per bulan.

Angka ini merupakan hasil pembagian PDB per kapita secara tahunan, sehingga tetap bersifat agregat dan tidak mencerminkan kondisi pendapatan setiap individu secara merata.

Baca juga: Harga Emas Kembali Turun, Panik atau Justru Peluang?

Perbedaan tingkat pendapatan antarwilayah, sektor pekerjaan, serta kelompok sosial membuat distribusi pendapatan di lapangan sangat beragam.

Oleh karena itu, meskipun PDB per kapita meningkat, sebagian masyarakat masih bisa merasakan tekanan ekonomi akibat inflasi, biaya hidup, atau keterbatasan lapangan kerja.

BPS mencatat, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB Indonesia dari sisi pengeluaran. Pada 2025, kontribusi konsumsi rumah tangga mencapai 53,63 persen, menjadikannya motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi juga berperan signifikan dalam menopang PDB per kapita.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia pada 2025 tumbuh 5,11 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kuatnya konsumsi masyarakat pada triwulan IV 2025.

“Komponen pengeluaran yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDB dari sisi pengeluaran adalah konsumsi rumah tangga, dengan kontribusi sebesar 53,63 persen, dan konsumsi rumah tangga ini tumbuh sebesar 5,11 persen,” jelasnya dalam rilis resmi BPS di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Ke depan, peningkatan PDB per kapita diharapkan tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi juga diikuti dengan pemerataan pendapatan, penguatan daya beli, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Author