INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Hujan dan panas yang datang tidak menentu berdampak serius terhadap pertanian cabai di wilayah Kota Banjarbaru.
Sejumlah petani mengeluhkan tanaman cabai rusak hingga gagal panen akibat kondisi cuaca yang sulit diprediksi dalam beberapa pekan terakhir.
Salah satu petani cabai di Jalan Caraka Ujung, Sedio mengungkapkan, hampir seluruh tanaman cabainya mengalami kerusakan parah.
Ia menyebut perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba membuat tanaman tidak mampu bertahan.
“cabainya kering sudah setengah bulanan karena pengaruh hujan panas dan jadi gagal semua,” ujarnya, Kamis (22/01/26).
Baca juga: Warga Terdampak Banjir di Liang Anggang Mayoritas Terserang Penyakit Kulit dan Flu
Menurut Sedio, hasil panen kali ini jauh dari harapan. Kondisi tersebut membuat petani tidak bisa menikmati hasil panen secara maksimal.
“Sekarang ini nggak bisa puas lah petani panen cabai ini, separuhnya meninggal, separuhnya dapat,” katanya.
Dari lahan yang digarapnya, biasanya mampu menghasilkan sekitar 100 kilogram cabai. Namun sekarang sudah tidak optimal.
“Ya, biasa sekitar 100 kilogram dapat. Cabainya jenis keriting dan japlak ini lahan punya saudara saya. Sekarang panennya paling 50 persenan aja dari biasanya,” sebutnya.
Ia juga menjelaskan, bukan hanya cabai yang terdampak, namun sejumlah tanaman hortikultura lain juga ikut rusak akibat cuaca ekstrem.
“Keritingnya meninggal dan jablaknya meninggal, dan terong juga meninggal, jadi karawila atau gambas itu yang lebih tahan, timun dan kacang itu tahan,” ungkapnya.
Ia menyebut kematian tanaman cabainya terjadi secara mendadak tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.
“Ini tiba-tiba mati semua cabainya,” ucapnya.
Kondisi serupa juga dialami oleh petani lain di wilayah tersebut. Dimana katanya hampir seluruh lahan cabai di sekitar lokasi terdampak.
“Semua cabai, petani lain juga, luasnya hampir 2 hektare yang mati, kalau musim kemarau sudah mutik 4-5 kali, biasa panen 250 kilogram,” jelasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan petani lainnya, Pardi. Ia mengatakan cuaca yang tidak menentu membuat hasil pertanian menjadi sulit diprediksi.
“karena musimnya tidak menentu kayak gini ya berpengaruh hasilnya. Kalau kemarau malah bagus hasil panennya,” imbuhnya.
Menurutnya, kondisi hujan sebenarnya menguntungkan jika terjadi secara stabil. Namun perubahan ekstrem justru memicu penyakit pada tanaman hingga kerusakan.
“Kalau musim hujan malah bagus ya, ada air, asam nya kan jadi turun. Tapi karena hujan terus kemudian langsung panas jadi asam dibawah naik,” tuturnya.
Ia menyebut, tanaman cabai tidak mampu bertahan terhadap perubahan suhu yang drastis seperti itu.
“Mereka ini kan tidak kuat kedinginan, jadi matian semua. Tidak di kebun saya saja, tapi semua kebun,” bebernya.
Cabai keriting yang baru ditanam bahkan belum sempat dipanen karena sudah lebih dulu mati karena tidak tahan terhadap cuaca.
“Cabai keriting ini belum sempat dipanen, ini baru saja ditanam tapi sekarang mati-mati gitu nggak tahan,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, sebagian petani kini mulai beralih menanam komoditas yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.
“Jadi ya menanam jagung, gambas sama kacang yang tahan,” pungkasnya.





