Suatu ketika, hantu-hantu sedang berkumpul, asyik bertukar cerita. Tiba-tiba datang Brodin, pemuda yang baru saja tewas di tangan pamannya sendiri. Anehnya, bukannya disambut, para hantu senior malah buang muka, pergi menjauh.

INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Ada apa gerangan? Mengapa Brodin sampai dimusuhi para hantu senior?

Semua bermula dari kisah rakyat tentang kesaktian seorang mandor pabrik gula yang gigih melawan Belanda pada abad ke-19.

Mandor Sadiman alias Sakerah itu sudah lama hidup dalam ingatan masyarakat, salah satunya lewat pementasan kesenian ludruk di Jawa Timur.

Namun, di tangan penulis Dadang Ari Murtono, kisah Sakerah dipermak sedemikian rupa menjadi cerpen beraliran realisme magis. Hantu-hantu ikut nimbrung ke dalam plot: urusan harga diri ternyata bisa membuat orang—bahkan yang sudah mati—ikut repot.

Dadang dengan gaya verbalnya yang asyik berkisah, “Waktu ditahan, Sakerah meminta keponakannya Brodin untuk menjaga kedua istrinya selama dia ditahan.”

Sayangnya, Brodin malah kepincut kemolekan Marlena, istri muda Sakerah. “Ya terjadilah. Kalian tahu, lah, ya,” kata Dadang.

Nah, kelakuan Brodin dan Marlena itu ternyata membuat para hantu gentayangan di tanah kelahiran Sakerah ikut resah.

“Ada anggapan di kampung, harga diri lelaki itu terletak pada dua: istri dan tanah. Kau usik salah satunya, nyawa pun siap dipertaruhkan.”

Melihat ulah Brodin, para hantu lelaki pun sepakat mendatangi Sakerah yang masih mendekam di penjara. Mereka membongkar kelakuan Brodin. Mendengar kesaksian para hantu, Sakerah murka. Dengan kesaktiannya, ia pun meloloskan diri dari penjara.

Begitulah kisah Hantu Kebun Tebu, satu dari belasan cerpen Dadang yang terangkum dalam buku Brang Wetan.

Kumpulan cerpen tersebut berhasil memancing diskusi yang gayeng di Taman Budaya, Senin (28/9), dalam agenda Nyata Buku, salah satu rangkaian Arkais Festival yang digelar komunitas sastra Arkalitera bersama Kementerian Kebudayaan.

Diskusi yang dihadiri puluhan pelajar dan mahasiswa itu dipandu cerpenis Musa Bastara. Ia memintal obrolan antara Dadang, novelis Sandi Firly, dan Rie Arshaka menjadi semacam kelas sastra yang bukan cuma bernas, tetapi juga jenaka.

Proses kreatif Dadang dalam menulis prosa pun ikut dikupas. Secara umum, karya-karyanya berangkat dari kegandrungannya pada kisah-kisah dan kesenian ludruk.

“Yang menarik dari cerpen Dadang di Brang Wetan adalah kekuatan imajinasi, serta konsistensi gayanya: realisme magis. Hantu-hantu, tapi semua hantunya lucu-lucu,” kata Sandi.

Antusiasme peserta makin terlihat ketika sesi tanya jawab dibuka. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir. Dua peserta yang beruntung bahkan pulang membawa buku Brang Wetan lengkap dengan tanda tangan penulisnya.

Arkais Festival
Dadang Ari Murtono menandatangani lembar Brang Wetan kepada dua peserta Arkais Festival yang beruntung mendapatkan bukunya – Foto: Arkais Festival

Sejumlah peserta berharap kegiatan serupa lebih sering digelar di Banjarmasin.

“Banyak sekali pelajaran yang bisa kami petik dari diskusi buku Brang Wetan tadi,” kata Irwan, salah satu peserta Arkais Festival.

Arkais Festival
Dadang Ari Murtono memberian buku Brang Wetan kepada salah satu peserta Arkais Festival. Foto: Arkais Festival

Sekadar diketahui, Arkais Festival digelar hingga 30 September. Selain diskusi buku, para peserta juga akan mengikuti beragam pelatihan menulis, mulai dari puisi, esai, hingga cerpen.

Program tersebut merupakan hasil gawe Arkalitera bersama Kementerian Kebudayaan melalui Program Penguatan Komunitas Sastra. Dari sekian banyak komunitas yang mengajukan, Arkalitera terpilih bersama total 16 komunitas di seluruh Indonesia untuk menggelar festival sastra.

Dalam keterangan resminya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan komunitas sastra di berbagai penjuru Indonesia merupakan penggerak utama ekosistem sastra, penghubung antara karya dan pembaca, ruang tempat lahirnya penulis-penulis muda, sekaligus wadah berkembangnya beragam wacana sastra.

“Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat ekosistem sastra Indonesia, salah satunya dengan mendorong komunitas-komunitas sastra di Indonesia untuk terus tumbuh dan berkembang seiring zaman. Dengan demikian, sastra sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan bisa berperan optimal sebagai sarana mencerdaskan bangsa,” pungkasnya.

Author