INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Di balik hijaunya hamparan kebun sayur, kekhawatiran mulai tumbuh di benak para petani.

Curah hujan tinggi yang terjadi hampir setiap hari dalam beberapa waktu terakhir perlahan menggerus harapan mereka, khususnya para petani sawi yang menggantungkan hidup dari tanah dan cuaca.

Sami, petani sawi dan seledri, di Landasan Ulin Utara menjadi salah satu yang merasakan langsung dampak hujan tanpa jeda itu. Tanaman yang seharusnya tumbuh subur justru banyak yang terendam air, tak berkembang, bahkan berujung gagal panen.

“Kalau hujan seperti ini, banyak yang tidak jadi. Hasilnya jadi berkurang,” ujar Sami dengan nada pasrah, Senin (19/1/2026).

Baca juga: BEM se-Kalsel Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, Supian HK Setuju

Ia bercerita, dalam kondisi cuaca normal, lahan yang digarapnya mampu menghasilkan ratusan ikat sawi dalam satu kali panen. Bahkan, pada masa-masa terbaik, hasil panennya pernah menembus ratusan ikat.

“Biasanya bisa dapat sampai seratus, seratus lima puluh, bahkan pernah sekitar lima ratus ikat,” ungkapnya.

Namun, kenyataan yang kini dihadapi jauh berbeda. Hujan deras disertai genangan dan banjir membuat tanaman sawi tak mampu bertahan. Daun menguning, batang membusuk, dan hasil panen pun merosot tajam.

“Sekarang paling dapat dua belas sampai lima belas ikat saja. Ada juga paling dua puluh lima atau tiga puluh. Jauh sekali berkurangnya,” katanya.

Menurut Sami, hujan yang turun hampir setiap hari membuat tanaman sulit tumbuh optimal. Lahan yang terlalu basah justru menjadi ancaman bagi sayuran yang seharusnya cepat dipanen.

“Kalau tidak hujan mungkin masih bisa lumayan, tapi ini hujan terus,” ucapnya lirih.

Hasil panen yang tersisa tetap ia jual ke pasar. Harga pun menyesuaikan ukuran dan jumlah ikatan, meski tidak selalu sebanding dengan jerih payah dan biaya produksi yang dikeluarkan.

“Kalau di pasar ada yang lima ribu sampai enam ribu untuk yang kecil. Kalau satu pak lima ikat itu dua belas ribu dari petani ke pengumpul,” jelasnya.

Penurunan hasil panen ini tak hanya berdampak pada ketersediaan sayur di pasar, tetapi juga langsung memengaruhi pendapatan petani kecil seperti Sami. Meski demikian, ia tetap menyimpan harapan sederhana agar cuaca segera bersahabat.

“Mudah-mudahan hujannya cepat berhenti,” tutupnya.

Di tengah perubahan iklim yang kian tak menentu, kisah Sami menjadi potret ketangguhan petani kecil yang terus bertahan, sembari menunggu cuaca berpihak.

Author