INTERAKSI.CO, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia masih membutuhkan tambahan sekitar 150 ribu insinyur dalam enam tahun ke depan untuk menopang pengembangan industri digital.

Kebutuhan tersebut muncul seiring percepatan transformasi teknologi di berbagai sektor strategis, termasuk industri semikonduktor dan pengembangan kecerdasan buatan.

Airlangga menjelaskan jumlah insinyur yang dibutuhkan setara dengan sekitar 45 persen tambahan dari jumlah tenaga engineer yang ada saat ini.

Dari total kebutuhan tersebut, sekitar 15 ribu insinyur secara khusus diperlukan untuk mendukung industri semikonduktor.

Baca juga: Kerry Adrianto Ajukan Banding atas Vonis 15 Tahun Penjara Kasus Korupsi Minyak Mentah Pertamina

Menurutnya, pemerintah saat ini mulai memetakan kebutuhan insinyur secara lebih spesifik sesuai dengan sektor industri yang tengah didorong.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan program pelatihan vokasi melalui Kementerian Ketenagakerjaan guna meningkatkan keterampilan tenaga kerja melalui skema retraining dan reskilling.

Airlangga mencontohkan kerja sama pelatihan yang telah disepakati di London antara Danantara dan perusahaan teknologi ARM Limited. Melalui kerja sama tersebut, disiapkan pelatihan bagi 15 ribu insinyur untuk memperkuat ekosistem teknologi berbasis ARM.

Di sisi lain, Indonesia dinilai telah menunjukkan kesiapan dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan. Indonesia bahkan menjadi negara pertama di kawasan ASEAN yang menyelesaikan UNESCO AI Readiness Assessment.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi AI, tetapi juga mulai menyiapkan kerangka hukum, etika, dan sosial untuk mendukung pengembangan inovasi teknologi.

Airlangga menambahkan industri yang cepat mengadopsi AI berpotensi memperoleh pendapatan hingga tiga kali lebih besar dibandingkan industri yang lambat beradaptasi.

Secara global, teknologi AI diperkirakan mampu memberikan kontribusi hingga 15,7 triliun dolar Amerika Serikat terhadap perekonomian dunia pada 2030.

Sementara itu, di Indonesia teknologi AI generatif diproyeksikan mampu menambah kontribusi ekonomi hingga 243,5 miliar dolar Amerika Serikat.

Ia juga menegaskan pentingnya peran insinyur dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Digitalisasi dan keberlanjutan kini menjadi dua aspek yang saling terhubung dalam pembangunan ekonomi modern.

Indonesia saat ini juga tercatat sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara. Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai 124 miliar dolar Amerika Serikat pada 2025.

Pada tahun yang sama, penetrasi koneksi seluler di Indonesia diproyeksikan mencapai 116 persen dengan sekitar 230 juta pengguna internet serta 180 juta identitas media sosial.

Pemerintah juga menargetkan Indonesia masuk dalam 45 besar Global Innovation Index pada 2030 sesuai arah pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025 sampai 2045.

Airlangga menekankan bahwa para insinyur di masa depan tidak hanya dituntut berinovasi, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan dan big data untuk menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.

Author