INTERAKSI.CO, London – Pemerintah Inggris secara resmi menghentikan perundingan perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Israel.
Langkah ini diumumkan langsung oleh Menteri Luar Negeri David Lammy, menyusul meningkatnya kecaman terhadap agresi militer Israel di Gaza dan pemblokiran bantuan kemanusiaan.
“Tidak mungkin untuk memajukan diskusi FTA baru dengan pemerintahan Netanyahu yang menerapkan kebijakan buruk di Tepi Barat dan Gaza,” ujar Lammy dalam siaran pers yang dirilis Selasa (20/5/2025), dilansir The Guardian.
Langkah tegas ini juga diiringi dengan pengumuman sanksi terhadap organisasi dan individu pemukim ilegal di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Pemerintah Inggris mengutuk keras kekerasan yang dilakukan para pemukim serta impunitas yang diberikan oleh otoritas Israel.
Baca juga: PM Inggris Keir Starmer Kecam Kondisi Gaza, Tapi Inggris Justru Tingkatkan Ekspor Senjata ke Israel
Dalam pidatonya di parlemen, Lammy menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap retorika ekstrem yang digaungkan pejabat tinggi Israel, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich yang menyebut perlunya “pembersihan” populasi Gaza.
“Kita harus menyebut hal ini sebagaimana adanya. Ini ekstremisme. Ini menjijikkan. Saya mengutuknya dengan keras,” kata Lammy.
Lammy menegaskan bahwa meski Inggris mengakui serangan keji yang dialami Israel pada 7 Oktober dan mendukung hak pertahanan diri, tindakan yang saat ini dilakukan pemerintah Israel “tidak proporsional dan sangat kontraproduktif.”
Lammy menyerukan agar Israel segera menghentikan operasi militer di Gaza dan membuka ruang bagi gencatan senjata serta solusi politik yang adil.
“Memblokir bantuan, memperluas perang, dan mengabaikan kekhawatiran teman serta mitra—hal ini tidak bisa dipertahankan. Dunia sedang menilai, dan sejarah akan mencatat ini,” ujarnya.
Dia juga menyatakan bahwa solusi dua negara tetap menjadi satu-satunya jalan menuju perdamaian abadi. Taktik kekerasan, katanya, tidak akan menghancurkan Hamas, tetapi justru menciptakan generasi baru yang siap direkrut oleh ekstremisme.
Pemimpin Partai Nasional Skotlandia (SNP), Stephen Flynn, menyambut baik langkah Lammy, namun menilai Inggris perlu melangkah lebih jauh. Ia meminta agar parlemen:
-
Mengakui negara Palestina secara resmi
-
Menghentikan seluruh penjualan senjata ke Israel
-
Mendukung proses Mahkamah Internasional (ICJ) dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang tengah menyidik dugaan genosida serta kejahatan perang oleh Israel.
“Sudah waktunya dewan ini diberikan suara untuk mengakhiri semua penjualan senjata dan mengakui kemerdekaan Palestina,” tegas Flynn.
Langkah Inggris ini menandai perubahan tajam dalam diplomasi luar negeri terhadap Israel, dan dapat menjadi sinyal kuat bagi negara-negara Barat lain untuk merevisi sikap mereka di tengah krisis kemanusiaan Gaza yang terus memburuk.