INTERAKSI.CO, Banjar – Banjir yang terus meninggi memaksa warga Desa Sungai Tabuk Keramat mengungsi ke Posko pengungsian dan dapur umum.
Sejak Kamis (1/1/2025), posko mulai dipenuhi pengungsi, karena air terus naik dan merendam sampai ke dalam rumah.
Sebagai tempat pengungsian darurat, fasilitas di dalamnya sangat terbatas. Posko tidak memiliki kamar mandi dan ruangan yang memadai. Untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus, pengungsi harus bergantian menggunakan sumur di samping posko.
“Di sini kami tidak memandang bersih lagi di sini, yang penting tidak kebanjiran,” ucap Jubaidah.
Dia mengaku sudah empat hari bertahan di posko pengungsian. Ia memilih bertahan di Poskesdes meski serba terbatas.
“Senyaman-nyamannya ai di sini, mau gimana lagi?” ucapnya.
Di tengah banjir, kondisi ekonomi keluarga Jubaidah semakin mengkhawatirkan. Suaminya mengalami kecelakaan empat bulan lalu dan tidak bisa bekerja karena patah di tangan dan kakinya.
“Sekarang tidak bisa bekerja. Mau bantu juga susah kalau banjir ini,” keluhnya.
Namun, di situasi pasrah yang dihadapi pengungsi, Ratna tetap memilih tetap bekerja demi pemasukan keluarga. Ia dan suaminya tetap berkeliling berjualan bakso.
“Mengungsi ke sini sebenarnya supaya lebih mudah jualan. Karena banjir, jadi susah memasak (bakso jualan),” ujarnya.
Warga menyebut situasi ini bukan kali pertama. Tahun lalu, mereka mengungsi di Poskesdes yang sama hingga sekitar satu bulan karena banjir tak kunjung surut.
Berdasarkan data BPBD Kalsel, jumlah kepala keluarga terdampak mencapai sekitar puluhan ribu keluarga. Selain itu, tercatat 215 fasilitas pendidikan terdampak banjir.
Wilayah terdampak tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota, mulai dari Banjarmasin, Banjar, Balangan, kawasan hulu sungai, Tanah Bumbu hingga Kotabaru. Saat ini, kondisi terparah terjadi di Kabupaten Banjar dengan jumlah terdampak mencapai 41.196 kepala keluarga.
Editor: Puja Mandela





