INTERAKSI.CO, Batulicin – Pasca-banjir dahsyat di Pulau Sumatera, kualitas lingkungan di Kalimantan Selatan ikut mencuat dan mendapat perhatian dari sejumlah organisasi dan masyarakat.
Walhi Kalimantan Selatan (Kalsel) sebelumnya mengingatkan pemerintah untuk belajar dari bencana yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera. Poin utamanya jelas: jangan sampai bencana sebesar itu terjadi di Kalsel.
Di tengah sorotan itu, PT Arutmin Indonesia, salah satu perusahaan tambang terbesar di Kalsel, menegaskan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan pasca-tambang. Mereka memastikan proses reklamasi menjadi tanggung jawab utama perusahaan.
“Sejak beroperasi di Tanah Bumbu pada 2008, Arutmin Batulicin telah mereklamasi 1.100 hektare dari total 2.100 hektare lahan yang dibuka,” Environment Supervisor PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin, Yulianto, di hadapan puluhan wartawan, Rabu (3/12/2025).

Pada 2025, kata dia, Arutmin Batulicin telah berhasil mereklamasi 23,01 hektare. Lahan yang direklamasi, kata dia, tersebar di kawasan hutan maupun non-hutan. Di lahan itu, perusahaan melakukan penanaman berbagai jenis pohon.
Arutmin Batulicin juga memperkenalkan lokasi pembibitan bernama Nursery Jiringa. Lokasinya berada di kawasan Kecamatan Simpang Empat.
Di lokasi ini, mereka membudidayakan berbagai jenis bibit pohon seperti waru, sengon, alaban, salam, merbau, sungkai, hingga kayu putih.
Dalam tahap reklamasi, perusahaan juga melakukan penyisipan tanaman lokal yang di antaranya berjenis pohon buah. Ini dilakukan setelah lahan tanam menjalani proses reklamasi selama dua tahun.
Arutmin Tambang Batulicin adalah bagian dari jaringan lima tambang aktif PT Arutmin Indonesia, yang memiliki wilayah operasi di tiga kabupaten di Kalimantan Selatan: Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru.
Perusahaan ini beroperasi di bawah naungan PT Arutmin Indonesia, yang memiliki kontrak pertambangan khusus (IUPK) dan dikelola sesuai standar internasional.
Selain memiliki program yang fokus di sektor lingkungan, Arutmin Batulicin juga punya banyak program di bidang pendidikan.
Trauma Banjir Kalsel tahun 2021
Masyarakat Kalsel punya trauma besar pada saat bencana banjir melanda 11 dari 13 kabupaten/kota pada tahun 2021.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 633.273 jiwa terdampak, 135.656 warga mengungsi, 46 orang meninggal dunia, dan 123.410 rumah terendam akibat banjir ini.
Jalan lintas provinsi dan nasional terendam sehingga mengganggu aktivitas ekonomi. Jembatan di Jalan Ahmad Yani km 55, Mataraman, Kabupaten Banjar, pun terputus akibat terjangan banjir.




![[Review] Wildoze dan Angka 27](https://interaksi.co/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260226-WA0014-218x150.jpg)
