Sore itu kami semua duduk melingkar, melantai di ruang induk toko Gramedia. Kali ini yang sedang didiskusikan adalah buku yang ditulis Dr. Sumasno Hadi, bertema Musik Populer Indonesia Dekade 1970an.

Terasa jadul tema diskusi kali ini, apalagi dihadapan anak-anak muda generasi milenial dan Gen Z. Mungkin saja mereka tidak banyak tahu tentang musik tahun 70-an, sebab itu zaman orang tua mereka, generasi yang jaraknya jauh berbeda.

Akan tetapi, yang menariknya, mereka tetap duduk dan hikmat mendengarkan cerita tentang lagu-lagu era 70-an tersebut, yang bukan saja sekedar hiburan, tetapi juga begitu membekas hingga sekarang dan tidak jarang membawa perubahan bagi kebudayaan, sikap dan cara pandang masyarakat.

Hadir pula sebagai pemantik dua narasumber hebat, yaitu Puja Mandela, jurnalis musik yang rajin mengamati perkembangan musik, bahkan sekaligus menjadi pelaku dan pegiat musik. Serta Dr. Nasrullah, seorang antropolog, yang tekun mengamati suatu fenomena kemasyarakatan, termasuk fenomena musik sebagai suatu produk kebudayaan masyarakat. Serta puluhan peserta lainnya, yang juga mengamati musik era 70-an, entah dosen, pengamat sosial atau pun mahasiswa yang sedang mengambil mata pelajaran seni musik.

Buku yang mengulas musik popular Indonesia dekade 70-an tersebut, merupakan hasil disertasi dari Dr. Sumasno Hadi, tentu saja karena bagian dari disertasi, bukunya cukup berat dan serius. Sumasno menjadikan puluhan lagu popular era 70-an sebagai obyek penelitiannya, dengan melihat aransemen, karakteristik, dunia industri dan nilai pendidikan yang terkandung pada lagu-lagu popular tersebut.

Dari sisi aransemen, bahkan Sumasno mencoba membandingkan dengan aransemen lagu-lagu sekarang, sehingga ditemukan bahwa walau pun dahulu alat serta peralatan musik masih sangat terbatas, bahkan baru memulainya untuk menggunakan alat-alat musik modern, namun aransemennya sudah lumayan bagus. Mungkin berbagai pengaruh dari perkembangan musik Barat dan kebudayaan dari Timur (India), yang perkembangannya jauh lebih pesat, telah memberi pengaruh pada aransemen lagu-lagu popular Indonesa era tersebut.

Begitu juga dengan karateristik musik, yaitu fitur atau elemen yang membedakan satu jenis musik dengan jenis musik lainnya, mulai dari melodi atau urutan nada yang membentuk struktur musik, harmoni atau kombinasi nada yang dimainkan secara bersamaan, ritme atau pola ketukan atau irama dalam musik,  tempo yaitu kecepatan atau kelambatan dalam memainkan musik , dinamika perubahan volume dalam musik apakah keras atau lembut, timbre yaitu warna suara atau karakteristik suatu instrument atau vocal, struktur atau pola dan bentuk organisasi musik serta lirik yaitu teks atau kata-kata yang dinyanyikan dalam musik. Semua itu dikaji dengan amat teliti oleh Sumasno Hadi.

Begitu juga dengan industri musik, meliputi produksi, distribusi dan konsumsi musik. Dahulu nampak begitu rumit dan melibatkan banyak pihak, sehingga kompetisinya begitu ketat, sekarang tentu saja berbeda. Berbagai kemudahan sudah terjadi dan tentu berpengaruh terhadap industri musik itu sendiri.

Dan terakhir, sebagai seorang pengajar, tentu saja yang menjadi perhatian Sumasno pada soal nilai-nilai pendidikan yang terkandung pada lagu-lagu popler. Tentu saja lagu-lagu popular Indonesia era 70-an tersebut mengandung banyak nilai, antara lain nilai kasih sayang dan cinta, nilai kesetiaan dan pengorbanan, nilai kehidupan sosial, nilai-nilai moral dan nilai menyangkut pesan kehidupan. Semua nilai yang terkandung pada lagu-lagu populer tersebut, pasti masih relevan hingga sekarang, dan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk memahami serta menjawab isu-isu sosial, tantangan kehidupan.

Membicarakan lagu pupuler era itu, tentu saja tidak akan pernah lupa pada lagu Badai Pasti Berlalu karya Erros Djarot. Suatu lagu ikonik yang menghiasi sejarah musik Indonesia. Lagu tersebut menceritakan kesedihan karena kehilangan yang dialami seseorang akibat berakhirnya hubungan cinta. Liriknya sangat puitis dan mendalam, menggambarkan perasaan sedih, kecewa dan kesepian. Musiknya sederhana, tapi efektif. Melodi yang digunakan adalah melodi minor yang memberikan kesan sedih dan melankolis. Instrument yang digunakan juga sangat minimalis, dengan piano sebagai instrumen utama. Secara nilai, lagu ini mengajarkan untuk tidak larut dalam kesedihan, bahwa setelah kesedihan dan kehilangan, akan ada kebahagiaan dan harapan baru. Tidak berlebihan bila lagu ini ditetapkan sebagai lagu terbaik era 70-an.

Puja Mandela, jurnalis musik yang juga meneliti dan mengamati musik popluer era 70-an, menilai bahwa era itu band-band musiknya justru rapuh. Sebab, setelah era itu, band yang sebelumnya bermunculan dan memberi pengaruh kuat, justru bubar. Hanya ada sedikit dan itu mun minoritas, yang mampu bertahan dan masih eksis. Justru atmosfirnyalah yang menyebabkan mereka tidak tahan, sebab menjadi pemusik pada waktu itu belum menjamin kesehjateraan. Sistem penjamin, termasuk sistem hukum yang kita miliki, menyebabkan pencipta lagu dan penyanyi, tidak mendapat jamiman apapun dari karya yang telah dihasilkannya.

Namun Puja Mandela mengakui, pengaruh lagu 70-an hingga sekarang masih sangat terasa. Bahkan sejumlah penyanyinya menjadi legenda yang memberi pengaruh pada budaya, pemikiran dan bahkan gerakan sosial masyarakat.  Tentu bila dibandingkan dengan musik Barat era itu, kita di Indonesia masih jauh tertinggal. Di Barat, mereka sudah melakukan berbagai eksperimen alat-alat musik dan memadukannya dengan berbagai unsur bunyi dan efek bunyi serta kebudayaan lintas bangsa, sementara kita masih belajar memulai untuk bermusik.

Sementara itu Dr Nasrullah mengamatinya dari sisi linguistik, sejumlah ahli yang pemikiraannya dicuplik Sumasno Hadi dalam buku tersebut, diulas satu persatu oleh Nasrullah, dan terasa bahwa walau pun yang dibahas musik popoler Indonesia era 70-an, namun setelah didalami, diketahui dari sisi bahasa terdapat struktur, fungsi dan perkembangan bahasa yang sangat pesat terserta sistematis, termasuk penggunaan dalam konteks sosial yaitu sosiolinguistik dan pragmatik. Belum lagi menyangkut nilai yang dikandung di dalamnya, terasa kuat nilai dan pembelajaran yang telah diberikan, pasti membawa pengaruh sangat besar.

Akhirnya, diskusi musik yang dikira santai dan sederhana, ternyata cukup berat dan mendalam, diakui musik 70-an sangat membekas hingga sekarang, bahkan membawa perubahan bagi Indonesia, bukan hanya bagi musik dan dunia hiburan itu sendiri, tapi perubahan budaya, serta prilaku warga Indonesia, karenanya sangat tepat penelitian Sumasno Hadi mengkaji hal tersebut, mengingat pengaruh budayanya yang begitu kuat hingga sekarang. Mungkinkah lagu-lagu popler yang dihasilkan era sekarang ini mampu bertahan sebagaimana lagu-lagu popler era 70-an? Hanya waktu yang akan membuktikan, termasuk lagu tabola -bale yang katanya sekarang mendunia.

Oleh: Noorhalis Majid

Author