INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Gramedia Veteran kembali menjadi ruang bertemunya gagasan dalam Diskusi Buku #5 bertajuk “Musik Populer Indonesia Dekade 1970-an: Perspektif Fungsionalisme Historis”, Sabtu (1/11/2025) sore.
Acara yang diinisiasi oleh komunitas literasi bersama Gramedia ini menghadirkan tiga pemantik utama: Sumasno Hadi (penulis buku), Nasrullah (antropolog), dan Puja Mandela (jurnalis musik), dengan Noorhalis Majid sebagai moderator.
Diskusi berlangsung hangat sekaligus berat. Di sana mereka menyoroti bagaimana musik Indonesia dekade 1970-an bukan sekadar hiburan, melainkan juga potret perjalanan budaya dan sosial bangsa.
Baca juga: Soundrenaline 2025: Dari Panggung Musik Jadi Gerakan Kolektif Kreatif di Lima Kota
Buku karya Sumasno Hadi sendiri memotret era penting ketika musik Indonesia mulai menemukan bentuk dan identitasnya, dari semangat kesederhanaan Koes Plus, pengaruh musik timur dan barat yang diserap Soneta, hingga kematangan musikal yang diwakili album Badai Pasti Berlalu.
Dalam paparannya, Puja Mandela tampil dengan gaya santai dan reflektif. Meski tumbuh besar dengan musik Indonesia 70-an, tetapi dia tak segan untuk mengkritisi beberapa hal di era tersebut.
“Dulu saya sempat sebel dengan band-band seperti The Mercys, D’lloyd, atau Panbers. Karena lirik mereka cemen sekali. Sudut pandangnya selalu ‘aku’ yang tersakiti. Dan lirik-lirik semacam itu juga terbawa sampai era 2000-an. Bisa dibilang liriknya payah sekali,” katanya.
Namun, situasi itu juga disadari oleh pelaku musik itu sendiri hingga album Badai Pasti Berlalu dirilis. Karya yang dinobatkan sebagai album terbaik Indonesia sepanjang masa itu telah mengubah standar produksi musik era 70-an, baik dari lirik, sound maupun aransemen.
Sebagai pondasi, menurut Puja Mandela, musik era 70-an belum kokoh. Kerapuhan itu juga terbawa sampai sekarang, saat para musisi mulai sadar pentingnya royalti dan hak cipta musik. Tapi secara umum ia tetap memuji musik era 70-an yang tanpanya, wajah musik Indonesia belum tentu akan berwarna seperti hari ini.
Sementara itu, Nasrullah, seorang antropolog, menyoroti aspek metodologis dalam buku tersebut, khususnya penggunaan analisis wacana kritis (critical discourse analysis / CDA).
Menurutnya, metode analisis yang digunakan masih belum terjabarkan secara rinci, terutama dalam mengupas lirik lagu.
Menanggapi hal itu, Sumasno Hadi menganggap kritik tersebut sebagai masukan yang berharga. Ia mengakui bahwa pendekatan analisis dalam bukunya memang belum dilakukan secara maksimal.
“Untuk melakukan itu tentu perlu riset lanjutan. Itu masukan yang bagus,” ujarnya.
Sementara itu, Noorhalis Majid selaku moderator menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin bulanan.
“Ini adalah diskusi buku yang kelima. Kami menggelarnya setiap Sabtu pertama setiap bulan untuk mendiskusikan karya-karya penulis Kalimantan Selatan. Selain menjadi ajang berbagi gagasan, Gramedia juga memberikan diskon bagi pembeli buku selama acara berlangsung,” ujarnya.
Diskusi yang dihadiri oleh pembaca, akademisi, dan pelaku seni ini menjadi ruang penting bagi ekosistem literasi dan kebudayaan di Kalimantan Selatan.
Acara terselenggara atas kerja sama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalsel, Gramedia, Lembaga Kajian Kebudayaan dan Kemasyarakatan (LK3), interaksi.co, serta sejumlah komunitas literasi dan budaya seperti Ambin dan Rumah Alam.





