INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Pedagang Kaki Lima yang memadati bahu Jalan Panglima Batur, Banjarbaru Utara, diminta pindah.
Petugas gabungan telah memberikan teguran dan sosialisasi, sekaligus meminta para pedagang takjil itu memindahkan lapak nya ke kawasan Pasar Wadai di Lapangan dr Murdjani guna menghindari kemacetan dan gangguan ketertiban umum selama Ramadan.
Penertiban dilakukan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Banjarbaru bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Banjarbaru.
Lokasi yang menjadi sorotan tepat berada di depan SDN 1 Komet dan kawasan Taman Kreasi Panglima Batur, dimana lapak pedagang dinilai terlalu mepet ke jalan hingga mempersempit arus lalu lintas.
Baca juga: Pemkot Banjarbaru Gelar Pasar Murah Bersubsidi di Lima Kecamatan Selama Ramadan
Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar Banjarbaru, Rahmi Fahrina menegaskan, langkah itu merupakan tindak lanjut arahan Wali Kota agar aktivitas jual beli selama Ramadan tetap berjalan aman, tertib, dan nyaman bagi pedagang maupun pembeli.
“Kami bersama Satpol PP Banjarbaru telah melakukan sosialisasi untuk mengajak PKL yang berjualan di Panglima Batur, tepatnya di depan SD Komet 1 Banajrbaru dan Taman Kreasi, untuk berjualan di area Pasar Wadai di Lapangan dr Murdjani,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (23/2).
Ia memastikan, Pemerintah telah menyiapkan lapak gratis di area berkeramik depan Balai Kota tanpa ada pungutan biaya apa pun, sehingga pedagang kecil tetap dapat berjualan tanpa terbebani sewa.
“Di area keramiknya itu di depan Balai Kota memang untuk digratiskan sehingga tidak ada pungutan biaya apapun, PKL maupun pedagang kecil boleh berjualan, baik penjual pentol, bakso hingga batagor boleh berjualan di sana,” jelasnya.
Meski demikian, di lapangan tidak semua pedagang PKL langsung menyambut ajakan tersebut.
Namun, sebagian lebih memilih bertahan dengan menggeser lapak ke dalam atau ke atas trotoar, sambil mempertimbangkan tawaran relokasi.
Seperti salah satu PKL, Sutomo menyampaikan, telah ditegur dan diminta pindah ke Lapangan Murdjani, tapi ia masih ragu untuk langsung memindahkan dagangannya.
“Di trotoar gak boleh. Di suruh pindah ke lapangan dr Murdjani, gratis katanya, jadi aku ke belakang gini aja. Udah rencana ke Murdjani, tapi bawa-bawanya itu bingung aku, jadi terpaksa ke belakang (mundur) aja,” ungkapnya.
Ia juga mengaku, khawatir akan adanya pungutan tidak resmi di lokasi yang baru, meski sudah disebutkan gratis oleh Pemerintah.
“Itu nggak mungkin kalau gratis. Masalahnya apa? Di sana itu yang dagang-dagang itu membayar semua. Kadang-kadang ada orang luar minta ini dibayar, itu dibayar, gitu nah takut jadi terpaksa aku jualan di sini,” imbuhnya.
Hal serupa disampaikan pedagang minuman jelly, Bayu yang membenarkan adanya imbauan agar tidak lagi berjualan di bahu jalan karena berpotensi menimbulkan kemacetan.
“Ya ada Satpol PP beri imbauan, juga ada dari Kepala Paguyubannya, kalau jualan jangan di bawah karena bikin macet segala macam gitu,” ujarnya.
Kendati demikian, ia bersama pedagang lain akhirnya memilih menaikkan posisi lapak ke atas trotoar demi menjaga kelancaran arus kendaraan.
“Jadi dia yang jualan dibawah, disuruh pindah ke atas trotoar. Tadi awalnya kami di bawah, karena kami kan mepet ke jalan biar orang lihat gitu, ternyata ganggu bikin kemacetan, jadi ngikutin ke atas,” jelasnya.
Menurut Bayu, kawasan Panglima Batur tetap menjadi pilihan karena strategis dan ramai pengunjung, serta selama ini hanya ada iuran untuk kebersihan saja sehingga tidak terlalu terbebani.
“Di sini itu juga gratis, mungkin ada iuran kebersihan gitu aja. Tapi sekarang bukan dilarang, disuruh tertib dan menjaga kebersihan saja, dan kita sama teman-teman menyanggupi,” tuntasnya.
Pemerintah Kota Banjarbaru menegaskan, penataan ini bukan bentuk pelarangan berjualan, melainkan upaya menciptakan ketertiban, keselamatan, dan kenyamanan bersama selama Ramadan.





