INTERAKSI.CO, Batulicin – Niat berkumpul bersama keluarga di momen Lebaran terpaksa tertunda. Ratusan penumpang rute Batulicin menuju Garongkong, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, terlantar di pelabuhan.
Kapal KMP Awu-Awu yang mereka tumpangi mengalami overkapasitas hingga mencapai 500 orang.
Padahal, kapal yang dijadwalkan berangkat pada Senin (16/3/2026) pukul 11.00 Wita hanya punya kapasitas 240 orang.
Hal ini terungkap setelah pihak KSOP Kotabaru-Batulicin melakukan inspeksi mendadak (sidak) di atas kapal.
Hasilnya, mereka menemukan ada 240 penumpang yang mengantongi tiket resmi, sementara 261 penumpang lainnya naik tanpa tiket. Kondisi ini memaksa otoritas menunda keberangkatan demi keselamatan pelayaran.
Seorang penumpang, Ilhami, terpaksa turun setelah diketahui tidak memiliki tiket resmi karena tidak begitu memahami tata cara pembelian tiket.
“Saya membayar kepada seorang calo seharga Rp250 ribu,” tuturnya saat diwawancarai pada Selasa (17/3/2026).
General Manager PT ASDP Batulicin, Ardian, mengakui adanya celah pengawasan yang dimanfaatkan penumpang untuk masuk ke atas kapal tanpa tiket resmi.
“Mungkin pas lagi buka puasa, pengawasan sedikit renggang. Penumpang masuk satu-satu hingga akhirnya membeludak. Intinya kita tidak saling menyalahkan, namun keselamatan tetap prioritas,” ujar Ardian, Selasa (17/3).
Terkait keluhan praktik percaloan, Ardian berjanji akan melakukan investigasi dan memberikan sanksi tegas jika terbukti ada oknum pegawai yang terlibat.
Pantauan di lapangan, para penumpang yang tertunda keberangkatannya telah dievakuasi ke kantor ASDP dan penginapan terdekat.
Untuk menunjang kenyamanan sementara, logistik berupa dapur umum hingga WC portabel juga terlihat sudah didirikan pemerintah daerah setempat.
Pihak Polres Tanah Bumbu juga membagikan nasi kotak kepada para penumpang untuk menu berbuka hari ini.
Ardian berharap para penumpang bersabar menunggu armada pengganti dari Pelabuhan Garongkong tiba.
“Estimasi kapal akan kembali mengangkut penumpang pada Kamis (19/3) mendatang,” pungkas Ardian.
Editor: Puja Mandela





