INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Pemerintah Kota Banjarbaru melakukan studi tiru ke Kelurahan Rorotan, Sabtu (04/04/2026).
Bertujuan untuk mempelajari berbagai model pengelolaan sampah modern yang telah diterapkan secara terintegrasi di wilayah padat penduduk.
Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi rombongan Pemkot Banjarbaru untuk memahami secara mendalam sistem pemilahan sampah organik dan anorganik yang terbukti berjalan efektif, mulai dari tingkat rumah tangga hingga proses pengolahan akhir.
Dalam kegiatan tersebut, rombongan mendapatkan pemaparan strategis mengenai roadmap pengelolaan sampah yang dirancang sistematis, dimulai dari sumber sampah di rumah tangga, pengolahan di fasilitas antara, hingga pengolahan akhir yang memiliki nilai ekonomi.
Paparan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
Kunjungan dilanjutkan ke Pusat Edukasi KIE RBU (Recycle Business Unit), yang berfungsi sebagai pusat edukasi lingkungan sekaligus fasilitas pengolahan sampah kering dan daur ulang terintegrasi.
Di lokasi ini, para camat dan lurah se-Kota Banjarbaru bersama jajaran Dinas Lingkungan Hidup melihat langsung bagaimana pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari gerakan edukasi masyarakat, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah.
Selanjutnya, mereka diajak ke kawasan ProKlim RW 01 Tugu Utara, yang menjadi contoh nyata kampung iklim berbasis komunitas dalam menghadapi perubahan iklim. Di kawasan tersebut, rombongan mempelajari inovasi pengolahan sampah berbasis masyarakat, seperti pembuatan pellet dari SOD, budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), serta sistem drop point bambu untuk fermentasi sampah.
Pembelajaran semakin lengkap saat mengunjungi RDF Plant Rorotan, fasilitas pengolahan sampah modern milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mampu mengolah sekitar 2.500 ton sampah per hari menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF).
Proses pengolahan di fasilitas ini melibatkan tahapan pemilahan, pencacahan, hingga pengeringan sampah non-organik untuk menghasilkan bahan bakar berukuran 2 hingga 10 sentimeter dengan kadar air di bawah 25 persen, yang memiliki nilai kalor setara batu bara muda.
Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, bersama rombongan tampak serius menyimak setiap tahapan pengolahan tersebut. Ia menyampaikan bahwa kunjungan ini memberikan pengalaman dan wawasan berharga yang diharapkan dapat segera diimplementasikan di Banjarbaru.
“Tentunya ini menjadi pengalaman, wawasan dan ilmu yang telah kita dapatkan di sini. Harapannya hasil dari kunjungan ini bisa segera kita implementasikan di Banjarbaru, tentu dengan menyesuaikan karakteristik wilayah masing-masing dan terus berinovasi dalam pengelolaan sampah,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, melalui kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
“Ini harus kita dorong bersama-sama. Tidak bisa dikerjakan secara individu, tetapi membutuhkan dukungan lurah dan camat untuk memberdayakan masyarakat Banjarbaru. Kita harus mengubah perilaku agar pemilahan sampah dapat selesai dari sumbernya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Shanty Eka Septiani, menyampaikan bahwa pihaknya akan menyusun strategi konkret setelah kembali ke daerah.
“Setiap kelurahan akan memetakan jumlah penduduk hingga tingkat RW, termasuk perkiraan sampah organik dan anorganik. Kami akan memulai dari beberapa rumah terlebih dahulu untuk pemilahan sampah, dengan target setiap bulan minimal bertambah 10 rumah yang menerapkan pemilahan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini pengelolaan sampah di Banjarbaru masih didominasi pola kumpul-angkut-buang, sehingga perubahan pola pikir masyarakat menjadi tantangan utama.
“Harapannya dari studi tiru ini kita bisa mengubah pola tersebut. Sampah tidak bisa lagi hanya dikumpulkan dan dibuang, tetapi harus diselesaikan dari sumbernya,” katanya.
Rangkaian kunjungan ditutup dengan peninjauan ke RPTRA Rorotan Indah I, termasuk TPS 3R Rorotan yang mengedepankan pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.
Fasilitas tersebut dinilai mampu mereduksi volume sampah secara signifikan sejak dari sumbernya, sekaligus menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.





