INTERAKSI.CO, Amerika Serikat – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana penerapan tarif baru yang akan berlaku untuk semua negara tanpa pengecualian, mulai 2 April 2025.

Langkah ini, yang disebut sebagai “Liberation Day” oleh Trump, bertujuan untuk memberlakukan tarif “resiprokal” terhadap mitra dagang AS yang dianggap memberlakukan praktik perdagangan tidak adil.

Tarif yang akan diterapkan meliputi bea masuk sebesar 25% untuk impor mobil dan suku cadangnya. Selain itu, tarif yang sebelumnya ditangguhkan terhadap Kanada dan Meksiko akan diberlakukan kembali.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Trump untuk mendorong perusahaan asing memproduksi barang mereka di dalam negeri, sehingga memperkuat industri manufaktur AS.

Baca jgua: 15 Negara yang Rayakan Idul Fitri pada 31 Maret 2025, Kenapa Berbeda dengan Timur Tengah?

Pengumuman ini menandai perubahan dari rencana awal yang hanya menargetkan 10 hingga 15 negara dengan defisit perdagangan terbesar terhadap AS.

Namun, Trump memutuskan untuk memperluas cakupan tarif ini ke semua negara, dengan alasan perlunya perlakuan yang adil dalam perdagangan internasional.

Penerapan tarif ini diperkirakan akan mempengaruhi berbagai sektor industri dan menyebabkan fluktuasi di pasar saham. Banyak pihak khawatir bahwa langkah ini dapat memicu perang dagang global dan berdampak negatif pada perekonomian.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa tarif ini diperlukan untuk melindungi pekerja dan industri AS dari persaingan yang tidak adil.

Pemerintah negara-negara mitra dagang utama AS, termasuk Uni Eropa, China, Kanada, dan Meksiko, diperkirakan akan merespons kebijakan ini dengan langkah-langkah balasan, yang dapat semakin meningkatkan ketegangan dalam hubungan perdagangan internasional.

Situasi ini menuntut kewaspadaan dan kesiapan dari berbagai pihak dalam menghadapi dinamika perdagangan global yang semakin kompleks.

Author