INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Suara gamalan Banjar mengalun dengan sangat ekspresif dari panggung Festival Nang Ning Nong, Sabtu (1/11/2025) akhir pekan lalu.
Di pojok lain denting “nang..ning..nong” berpadu dengan tawa anak-anak yang penasaran mencoba memainkan Gamalan Banjar yang dipajang agak jauh dari panggung. Tidak hanya ditujukan untuk hiburan, festival ini menjadi momen penting untuk pelestarian budaya Banjar.
Perdana sejak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada 15 Desember 2021, Gamalan Banjar akhirnya dirayakan secara terbuka.
Baca juga: Banjarmasin Akan Gelar Nang Ning Nong Festival, Angkat Musik Gamalan Banjar
Ketua Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIII Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Riris, menyebut acara ini sebagai langkah awal untuk menghadirkan kembali eksistensi Gamalan Banjar di tengah masyarakat.
Menurut Riris, pelestarian budaya bukan hanya soal menjaga benda atau ritual, tapi juga menurunkan pengetahuan dan semangatnya kepada generasi muda.
“Urgensinya ada di penerusan tradisi. Di sini ada workshop gamalan, tempat anak-anak belajar langsung. Kalau tidak diteruskan, pengetahuan ini bisa hilang,” jelasnya.
Berkelindan dengan kekhawatiran meluruhnya kesenian Gamalan Banjar ini, Riris menambahkan penting untuk mendukung para pegiat seninya terlebih dahulu.
Ia sempat mengungkapkan saat proses pengajuan, UNESCO sempat menanyakan dua hal penting sebelum penetapan: siapa yang menjamin pelestariannya dan siapa saja yang akan mendukung?
“Itu jadi pengingat bahwa pelestarian budaya harus dilakukan bersama, tidak bisa sendiri,” ujarnya.
Salah satunya adalah Subhan, anggota Sanggar Paratapan Lampini dari Kandangan. Pria 60 tahun itu memang lahir dari keluarga seniman dan merasa kesenian lokal sudah seharusnya dilestarikan.
Namun, bagi Subhan, menjaga warisan ini tidak mudah. Perlu konsistensi untuk mengajak generasi sebayanya untuk mau ikut serta.
“Sekarang sulit mengajak teman-teman seusia saya untuk ikut. Banyak yang belum tahu Gamalan Banjar itu apa. Padahal kalau sudah mencoba, pasti suka,” katanya.
Di penghujung acara, Riris sekali lagi berharap Festival Nang Ning Nong bisa menjadi agenda tahunan.
“Kita ingin tahun depan hadir lagi dengan konsep berbeda. Bisa jadi berkolaborasi dengan pemerintah daerah,” harapnya.
Editor: Puja Mandela





