INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Malam kian larut, tetapi kata-kata tak juga ingin pulang. Di panggung UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, puisi menjelma menjadi suara, musik, gerak, dan teater.

Kolaborasi UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan bersama Dewan Kesenian Banjarmasin sukses menggelar puncak perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2026 bertajuk “Puisi dalam Banyak Wajah” pada Sabtu (1/8/2026) malam. Perhelatan ini membuktikan bahwa puisi hidup dalam beragam ekspresi seni.

Kegiatan ini menghadirkan berbagai bentuk ekspresi sastra, mulai dari pembacaan puisi, musikalisasi puisi, teatrikalisasi puisi, hingga ruang partisipasi bagi masyarakat untuk membacakan karya.

Baca juga: Live In Antar Iman 2026, Belajar Keberagaman Langsung di Loksado

Rangkaian acara dimulai pukul 19.00 WITA dengan pemutaran rekaman suara para pembaca puisi sebagai pembuka suasana. Selanjutnya, acara resmi dibuka pukul 20.00 WITA melalui pembacaan puisi oleh para pejabat, dilanjutkan sambutan Ketua Pelaksana Surya Muda Tajuddin, perwakilan Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, serta perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan.

Memasuki sesi berikutnya, Ahmed Arthur Tristan dan Muhammad Irwan Aprialdy membacakan puisi sekaligus mengawali Gemuruh Puisi, yaitu pembacaan puisi bersama yang melibatkan seluruh hadirin sebagai wujud kebersamaan dalam merayakan sastra.

Panggung Hari Puisi Indonesia 2026 juga diramaikan penampilan musikalisasi puisi dari Komunitas Pemain Musik (KPM) Hulu Sungai Selatan, para pemenang Musikalisasi Puisi Balangan Islamic Festival 2026, serta para pemenang Musikalisasi Puisi tingkat SLTA/MA Balai Bahasa 2026, yakni SMAN 3 Banjarmasin dan SMAN 1 Martapura. Penampilan musikalisasi ditutup oleh kelompok Suara Ugahari bersama Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin, Hajriansyah.

Suasana yang penuh khidmat juga diwarnai pembacaan puisi oleh sejumlah tamu, di antaranya Micky Hidayat, Yadi Muryadi, Hadani Had, Rudi Karno, Edi Sutardi, Muhammad Daffa, Lorensius, M. Rasyid Zaki, Fatimah Adam, Elly Rahmah, Sri Naida, Muslimah, Fitri Sei Getas, dan lainnya.

Dua kelompok seni turut mempersembahkan teatrikalisasi puisi. Kelompok Selendang Tanah Laut menampilkan karya “Keramat Datu Irsyad” karya M. Rizani Z di bawah binaan Dewan Kesenian Tanah Laut. Sementara itu, Sanggar Sesaji membawakan “Puisi Topeng Para Topeng” karya Rudi Karno yang memadukan unsur teater dan pembacaan puisi.

Melalui tema “Puisi dalam Banyak Wajah”, penyelenggara menghadirkan ruang temu bagi penyair, seniman, pelajar, dan masyarakat untuk mengapresiasi sastra dalam berbagai bentuk penyajian.

Perhelatan ini sekaligus menegaskan bahwa puisi tidak hanya hidup dalam lembaran teks, tetapi juga melalui suara, musik, teater, dan ekspresi kolektif masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, Rizal Pahmi, melalui Kepala Seksi Pengembangan dan Pergelaran, Isra Biadillah, menyampaikan apresiasi kepada seluruh undangan dan peserta yang hadir.

Ia mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya Hari Puisi Indonesia 2026 yang berlangsung hangat dan penuh makna. Menurutnya, tema “Puisi dalam Banyak Wajah” mengajak masyarakat memahami bahwa puisi tidak pernah hadir hanya dalam satu bentuk, satu suara, ataupun satu sudut pandang.

“Puisi memiliki banyak wajah, mulai dari wajah kemanusiaan, cinta, alam, kritik sosial, harapan, kegelisahan, hingga wajah kebudayaan yang terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Isra menjelaskan, puisi tidak hanya hidup melalui rangkaian kata-kata, tetapi juga hadir dalam bunyi, gerak, musik, teater, bahkan dalam keheningan yang memberi ruang bagi setiap orang untuk menemukan maknanya sendiri.

Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, lanjutnya, puisi mengingatkan manusia agar tetap peka terhadap lingkungan dan sesama. Puisi mengajarkan untuk mendengarkan hal-hal yang sering terabaikan, melihat yang luput dari perhatian, serta merasakan kehidupan dengan hati yang lebih terbuka.

“Karena itulah puisi bukan sekadar karya sastra, melainkan ruang dialog, refleksi, dan perjumpaan antarmanusia,” pungkasnya.

Melalui pertunjukan sastra tersebut, UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan berharap dapat menciptakan ruang apresiasi yang inklusif, tempat para penyair, seniman, dan masyarakat saling berbagi gagasan, pengalaman, serta kreativitas.

Ia juga berharap kegiatan ini semakin memperkuat ekosistem sastra di Kalimantan Selatan sekaligus menginspirasi generasi muda untuk mencintai sastra sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa.

Adapun Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarmasin, Hajriansyah, yang diwakili Ketua Pelaksana Hari Puisi Indonesia 2026, Surya Muda Tajuddin, mengatakan peringatan Hari Puisi Indonesia tahun ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali peran puisi sebagai ruang ekspresi, refleksi, dan dialog kebudayaan di tengah masyarakat.

Mengusung tema “Puisi dalam Banyak Wajah”, kegiatan tersebut menghadirkan beragam pertunjukan sastra, mulai dari pembacaan puisi, musikalisasi puisi, hingga teatrikalisasi puisi yang melibatkan seniman, sastrawan, akademisi, pelajar, dan masyarakat umum.

Menurut Surya Muda Tajuddin, tema tersebut mencerminkan bahwa puisi tidak pernah hadir dalam satu bentuk maupun satu sudut pandang. Puisi memiliki banyak wajah, mulai dari kemanusiaan, cinta, alam, kritik sosial, harapan, hingga kebudayaan yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

“Puisi tidak hanya hidup melalui kata-kata, tetapi juga melalui bunyi, gerak, musik, teater, bahkan keheningan yang memberi ruang bagi setiap orang untuk menemukan maknanya sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, puisi mengajarkan masyarakat untuk tetap peka terhadap lingkungan, mendengarkan suara-suara yang sering terabaikan, serta melihat berbagai persoalan dengan hati yang lebih terbuka.

Karena itu, lanjutnya, puisi tidak sekadar menjadi karya sastra, melainkan ruang dialog, refleksi, dan perjumpaan antarmanusia yang mempertemukan gagasan, pengalaman, serta nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui penyelenggaraan Hari Puisi Indonesia 2026, Dewan Kesenian Kota Banjarmasin berharap dapat menciptakan ruang apresiasi sastra yang inklusif sehingga para penyair, seniman, akademisi, pelajar, dan masyarakat dapat saling berbagi kreativitas sekaligus memperkuat ekosistem sastra di Kalimantan Selatan.

“Kami berharap kegiatan ini mampu mendorong lahirnya karya-karya baru sekaligus menginspirasi generasi muda agar semakin mencintai sastra sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa,” tutup Surya.

Penulis: Rahim Arza

Author