Oleh: Sumasno Hadi

Apa hubungan antara puisi, logika, dan nada? Di antara beda fokus oriantasinya, ketiganya, apakah sastra, filsafat, musik punya jalur kekerabatan sehingga mungkin bergandengan tangan? Memang sejarah sastra, filsafat, dan musik dalam peradaban manusia seolah berjalan di jalurnya masing-masing. Akan tetapi, setidaknya, ketiganya punya satu kesamaan. Minimal, ketiganya punya fungsi sebagai perekam ingatan-pikiran, arena pergulatan moral, serta pencarian manusia akan makna kehidupan.

Di Kalimantan Selatan, kedalaman berpikir masyarakat kontemporernya, tradisi spiritualitas serta keintiman mereka dengan alamnya dapat terlacak pada bait-bait puisi para penyairnya. Sayangnya, karya sastra modern yang kaya makna ini seringkali hanya berputar di ruang apresiasi yang sempit dan berjarak dari jangkauan anak muda hari ini yang hidup di semesta digital. Menjawab keresahan tersebut, kami sejumlah akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat menjadi resah dan tergerak untuk melakukan sesuatu.

Singkat cerita, lahirlah sebuah program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Inovasi Musikalisasi Puisi Filosofis Kalimantan Selatan oleh Kelompok Ugahari”. Program ini didukung penuh oleh Program Inovasi Seni Nusantara tahun 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Progam semacam ini tentu saja adalah wujud dan upaya untuk memperkuat pengetahuan riset seni kampus agar mengakar dan berdampak langsung di tengah masyarakat.

Lahirnya program ini tidak lepas dari hasil penelitian interdisipliner yang mengawinkan tiga disiplin ilmu sekaligus: filsafat, sastra, dan musik. Hasilnya adalah inovasi model penciptaan dan distribusi digital musikalisasi puisi filosofis. Kolaborasi ini berhasil merumuskan konsep baru tentang puisi filosofis yang memadukan local genius masyarakat Banjar kontemporer dengan tradisi berpikir kritis para filsuf dunia, sebelum akhirnya dilarutkan ke dalam komposisi musik yang utuh dan disebarluaskan ke publik.

Di sini, posisi puisi dinaikkan fungsinya; ia bukan lagi sekadar susunan lirik yang puitis, melainkan dibawa pada ruang kritis untuk memahami kenyataan dan mencari kebaruan. Secara filosofis, proyek ini meminjam kacamata Ludwig Wittgenstein yang melihat puisi sebagai batas tertinggi bahasa, yakni saat kata-kata biasa tidak lagi mampu menggambarkan hal-hal yang transendental. Lewat puisi, sisi ekspresi serta emosi-emosi lokal yang luput dari logika formal justru bisa dirasakan. Sejalan dengan itu, pemikiran Martin Heidegger tentang posisi puisi juga diadopsi secara intim. Bagi Heidegger, puisi adalah tempat di mana kebenaran tentang eksistensi diri atau Being menyingkapkan wajahnya. Maka, puisi akan menjadi rumah bagi cara hidup masyarakat Kalimantan Selatan yang sejak dulu melekat dengan religiositasnya di dalam denyut nadi sungai dan lebatnya hutan.

Di sisi lain, ketajaman konsep logika dari Bertrand Russell digunakan sebagai pisau bedah untuk menjaga agar emosi dalam bahasa sastra tetap memiliki struktur makna yang kuat dan runtut saat digubah menjadi lagu. Konsep ini kemudian disempurnakan oleh gagasan neopragmatisme Richard Rorty yang memandang puisi sebagai alat yang ampuh untuk menulis ulang budaya secara kreatif. Bagi Rorty, puisi melahirkan metafora-metafora baru yang bisa memantik solidaritas kemanusiaan.

Pada proyek ini, estetika teks puisi yang tadinya berat dan rumit ini kemudian diterjemahkan ke dalam prinsip-prinsip serta teknik musik sehingga menjadi rangkaian nada yang harmonis, terukur, dan mudah dicerna secara emosional oleh pendengar awam sekalipun. Energi kreatif inilah yang kemudian ditularkan kepada kelompok musikalisasi Ugahari dari Kota Banjarmasin selaku mitra sasaran.

Ugahari dipilih lantaran punya modal bakat yang luar biasa, namun mereka perlu dorongan inovasi agar karyanya bisa menembus sekat-sekat baru. Sentuhan inovasi dalam program ini pun kami pandang mendobrak pakem lama musikalisasi puisi yang biasanya hanya membaca teks diiringi petikan gitar. Delapan filosofis karya penyair terkemuka Kalimantan Selatan terpilih didekonstruksi dan dirajut ulang menjadi delapan komposisi lagu yang utuh dan segar tanpa kehilangan ruh aslinya. Dalam wajah filosofisnya, lagu-lagu ini tetap saja membawa pesan tentang pencarian makna hidup, ketuhanan, kemanusiaan, dan kelestarian lingkungan yang dinyanyikan lewat melodi yang akrab di telinga generasi hari ini.

Proses panjang ini tidak instan, melainkan bergulir melalui lima tahapan. Perjalanan dimulai dengan sosialisasi dan duduk tim pelaksana program bersama Kelompok Ugahari sebagai mitra sasaran serta Dewan Kesenian Kota Banjarmasin untuk menyamakan frekuensi dan menggalang dukungan dari ekosistem seni lokal. Tim pelaksana kemudian menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama mitra sasaran untuk memetakan apa saja kebutuhan nyata mereka di lapangan.

Akhirnya, tim pelaksana memberikan bantuan fisik berupa seperangkat alat musik penunjang untuk meningkatkan kualitas latihan dan performa Ugahari. Setelah modal fisik terpenuhi, kapasitas manusianya ikut diasah lewat rangkaian lokakarya intensif. Anggota Ugahari diajak menyelami empat materi utama: pembedahan makna puisi filosofis, eksplorasi komposisi dan aransemen musik, penguasaan teknik rekaman audio profesional, hingga strategi membaca ceruk pasar distribusi musik digital. Semua proses belajar ini bermuara pada tahap akhir yang mendebarkan, yaitu tahap perekaman.

Delapan lagu pilihan pun akhirnya direkam secara profesional dan siap dilepas ke platform musik global seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music. Lewat ekosistem digital ini, ekspresi puiti-musikal Kalimantan Selatan pun diharapkan mampu melanglang buana tanpa batas geografis sekaligus membuka peluang royalti digital bagi masa depan Kelompok Ugahari.

Seluruh nafas dari kegiatan pengabdian ini digerakkan oleh tim pelaksana (dosen) lintas jurusan dari Universitas Lambung Mangkurat. Sinergi ini dipimpin oleh Sumasno Hadi selaku ketua tim dari Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan, didampingi dua anggota sejurusannya, Novyandi Saputra dan Muhammad Najamudin, yang mengawal aspek musikal dan pertunjukan.

Sementara itu, Sainul Hermawan dari Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia hadir memperkuat analisis teks sastra dan kedalaman makna puisi. Ruang pengabdian ini juga menjadi laboratorium hidup bagi tiga mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan, yaitu Octafianus Pangumpia Dumaha, Nur Aulia Putri, dan Niwayan Sugita Ratnyani. Mereka terlibat langsung sejak awal merancang kegiatan, mendampingi workshop, hingga mengawal proses rilis digital. Bagi mereka, ini adalah kuliah yang sesungguhnya—belajar langsung dari realitas di akar rumput.

Sesuai komitmen dan regulasi dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, porsi terbesar dari program ini memang dialokasikan langsung untuk memfasilitasi kebutuhan mitra sasaran, mulai dari pengadaan alat musik hingga biaya produksi rekaman. Pada akhirnya, apa yang dilakukan oleh tim Universitas Lambung Mangkurat ini menjadi bukti nyata bahwa riset teoretis akademik tidak harus berakhir kaku di rak perpustakaan kampus. Ketika filsafat, sastra, musik, dan teknologi digital saling menggenggam tangan, mereka mampu mengubah puisi-puisi sunyi menjadi peluru kebudayaan yang dinamis. Gerakan ini memastikan bahwa kebudayaan di Kalimantan Selatan akan terus terdengar, lestari, dan mandiri mengawal identitas bangsa di tengah derasnya arus zaman.

*

Penulis adalah Dosen filsafat & musik di Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan, Universitas Lambung Mangkurat.

Author