Oleh: Sainul Hermawan

Buku Suara dari Tenggara yang disunting oleh Puja Mandela diluncurkan secara resmi oleh Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif pada malam Minggu (8/8/2026).

Tidak semua buku punya nasib istimewa seperti buku yang menghimpun 50 tulisan dari 47 penulis dari Tanah Bumbu dan Kalimantan Selatan ini. Peluncuran ini menandai dukungan politik Pak Bupati terhadap aksi-aksi nyata pengembangan literasi yang dalam pandangan beliau sejalan dengan misi pemerintahannya untuk membangun Sumber Daya Manusia yang cerdas dan berdaya saing.

Mas Puja Mandela meminta saya membedah buku itu keesokan harinya di tempat yang sama. Saya memutuskan untuk membaca apa yang disuarakan oleh para penulis dari tiga kategori: pelajar, guru, dan penulis selain dua kategori ini. Waktu yang diberikan ternyata kurang. Saya hanya bisa berdiskusi dengan tiga pelajar: Arifin, Pasya, dan Raina.

Tiga pelajar ini menyuarakan tiga hal yang berbeda. Arifin menyayangkan orang yang gampang menilai orang dari bacaannya. Darinya saya belajar bahwa tak selalu identik dengan karakter pembacanya. Menurutnya, orang yang takut pada bacaan telah berhenti berpikir sehingga mereka tak mampu melihat kemungkinan-kemungkinan lain.

Dari Pasya saya belajar makna bacaan. Bacaan tak pernah punya dampak yang sama bagi pembacanya. Komik One Piece yang mungkin membosankan bagi orang lain, menjadi sumber motivasi Paaya untuk menjelajahi bacaan yang lain. Pasya adalah contoh dampak besar dari pojok literasi yang kecil di sekolahnya.

Saat dia diberi kesempatan bicara, suaranya mampu menyergap suasana. Kami tiba-tiba seperti menemukan generasi yang sering dicurigai malas membaca atau suka membaca tapi selintas saja dan dangkal, ternyata tak seperti itu. Pasya begitu menguasai apa yang telah dia baca.

Suara Pasya dikuatkan oleh Raina. Dalam esainya yang tak sepanjang esai Pasya, Raina menaruh harapan besar kepada para pihak yang bisa meninglatkan kualitas perpustakaan sekolah dapat membantu perpustakaannya punya koleksi bacaan yang selalu baru. Salah satu sebab generasinya malas membaca karena bacaan yang cocok dengan selera mereka yang ada di perpustakaan sekokahnya sangat sedikit.

Setelah mendengar suaranya, saya ikut menyuarakannya kepada Mas Puja dengan harapan dia ikut menyampaikan suara ini kepada para penentu nasib harapannya agar para pelajar dilibatkan dalam upaya penambahan koleksi pustakaan yang mereka inginkan, baik untuk koleksi perpustakaan daerah maupun perpustakaan sekolah.

Suara Guru dan Kepala Sekolah

Guru dan kepala sekolah bersuara lewat pengalaman langsung di ruang kelas dan sekolah masing-masing. Arif Rachman, dalam “Untuk Siapa Literasi Itu?”, mempertanyakan guru yang sibuk tampil di panggung literasi tapi meninggalkan kelasnya sendiri. Indah Dwi Rohmah, lewat “Krisis Membaca di Ruang Guru”, menunjuk fakta bahwa budaya malas membaca juga merayap ke ruang guru.

Muhammad Aliansyah, penulis “Alarm Kondisi Literasi dan Numerasi di Sekolah”, membawa data Rapor Pendidikan untuk memperlihatkan bahwa capaian literasi-numerasi bisa naik secara statistik sekaligus dangkal secara pemahaman. Aditya Irfiandi, dalam “Membiasakan, Bukan Memaksakan”, berbagi perjalanan personalnya membangun kebiasaan literasi lewat keteladanan.

Halimatus Sadiah, penulis “Hijau Bukan Sekadar Warna”, menegaskan angka hijau di rapor pendidikan adalah titik berangkat pembuktian. Hasni Maulida, lewat “Satu Kata Paling Bermakna”, membagikan pengalamannya di SLB tentang keberanian seorang anak berkebutuhan khusus mengucapkan satu kata dengan jelas sebagai bentuk literasi yang berbeda. Asniyati, penulis “Menyentuh Hati, Menggerakkan Harapan”, menegaskan pentingnya sinergi komunitas literasi, Duta Baca, dan perpustakaan sebagai investasi jangka panjang.

Dibandingkan dengan suara pelajar, ketujuh penulis ini berbicara dengan nada yang jauh lebih reflektif. Pelajar bersuara membela diri, menolak dicap malas membaca dan menunjukkan bahwa literasi mereka hanya berpindah rupa ke ruang digital. Guru, sebaliknya, justru banyak melakukan autokritik ke sesama profesi,  mempertanyakan keteladanan gurunya sendiri, mengakui ruang guru pun ikut malas membaca, dan menyoal angka capaian yang menipu di balik kesan keberhasilan. Kalau pelajar menuntut agar literasi disesuaikan dengan bahasa zaman mereka, guru menuntut sesuatu yang lebih mendasar: konsistensi dan keteladanan, sebab menurut mereka guru tak punya otoritas moral menuntut siswa literat kalau dirinya sendiri belum menjadi teladan literasi lebih dulu.

Enam Suara dari Luar Sekolah

Enam suara dari sudut selain pelajar dan guru juga  beragam, meski semuanya bicara langsung soal literasi Tanah Bumbu. Anang Azmi, lewat “Jika Literasi Tak Sampai ke Pinggiran, Lalu untuk Siapa Perpustakaan Itu Didirikan?”, membawa cerita lapangan tentang kampung yang hanya tujuh kilometer dari pusat kabupaten tapi nyaris tak tersentuh program literasi apa pun. Muh. Sulfihidayatullah, dalam “Mengurai Kebisingan Publik”, menyoal kemampuan warganet memahami informasi di tengah ruang publik yang bising oleh opini dan judul berita.

Kahar Acink, penulis “Ekosistemnya Dulu”, membagikan pengalaman empat belas tahunnya di Dinas Perpustakaan mengamati pasang-surut komunitas literasi daerah. Ilham Bahari, lewat “Literasi Bukan Hanya Diksi”, mengaitkan literasi masyarakat dengan literasi pemerintah sebagai penentu arah Tanah Bumbu ke depan. Najwa Aprilia, dalam “Di Antara Algoritma dan Ruang yang Menyelamatkan”, menceritakan perjalanan pribadinya keluar dari jerat konten media sosial menuju gerakan literasi lewat Pelita. Man Hidayat, penulis “Budaya Copas”, menyoroti hilangnya penghargaan terhadap proses menulis di tengah budaya salin-tempel di dunia digital.

Kalau dibandingkan dengan suara pelajar dan guru, enam suara ini berbicara dari jarak yang lebih jauh dari ruang kelas. Pelajar bersuara dari pengalaman langsung sebagai pembaca, tentang notifikasi yang mengalahkan niat baca atau stigma nilai remedial. Guru bersuara dari pengalaman langsung sebagai pendidik, banyak melakukan autokritik ke sesama profesi soal keteladanan literasi.

Enam penulis ini, sebaliknya, bersuara sebagai pengamat dan penggerak di luar sistem sekolah (dari birokrasi, jurnalistik, dan komunitas). Sorotan mereka lebih struktural dan berjarak waktu. Mereka memotret pola bertahun-tahun yang mereka saksikan berulang. Kalau pelajar dan guru menjawab pertanyaan “apa yang terjadi pada literasi hari ini”, enam suara ini menjawab pertanyaan yang lebih berat, “mengapa literasi tak kunjung mengakar meski program dan komunitasnya sudah berganti-ganti selama bertahun-tahun.

Diskusi ini tak bisa menjawab semua suara mereka. Saya hanya berharap komitmen kolaboratif untuk menaikkan level literasi Tamah Bumbu terjawab dengan cepat setelah malam dan hari Minggu yang lalu.

Author