Oleh: Puja Mandela

Afiffaturr baru saja merilis single barunya, “Penghuni Tanpa Suara”, sebuah lagu pop bertema kelas pekerja yang ia bawakan dengan penuh keteguhan dan keteduhan.

Dalam lagu ini, Afif sedang menghadapi dilema: di satu sisi ia harus terus bekerja keras untuk terus hidup, tetapi di sisi lain, pekerjaan itu seringkali menikamnya dari berbagai sudut. Kesibukannya itu juga menggerus waktunya untuk sekadar bersantai di pelataran rumah bersama anak dan istrinya sambil menikmati teh hangat dan sanggar tiwadak.

Yang selalu menarik dari Afif adalah caranya menulis lirik dan menyanyikannya. Lagu-lagu semacam ini bisa terdengar cengeng jika eksekusinya tidak tepat. Tapi Afif tidak. Vokalnya yang tak dipenuhi lipstik berhasil membuat orang seakan mendengarkan cerita dari keluh kesah lelaki dewasa yang hidup di tengah tekanan bertubi-tubi.

Saya kira sebagai penulis lirik, Afif masih terus membuktikan kekuatannya. Meski menurut saya, lagu ini belum sejajar dengan “Sabar Menjadi Sadar”, tapi beberapa baris lirik di “Penghuni Tanpa Suara” cukup menarik.

Pada bagian verse, “Dalam sakuku menyimpan mimpi/di antara harap-harap yang terus meninggi”. Ini seperti mimpi dan realitas yang terus berkejar-kejaran, tak pernah menemui garis finis. Rimanya enak untuk dinyanyikan. Juga tak ada kesan untuk menjadi sok puitis.

Lalu, baris “Kami bekerja sampai-sampai tlah lupa usia/anak bertumbuh tak disangka pun tidak diduga” adalah salah satu contoh lirik yang kuat dan emosional. Tentu saja, ini bukan hanya cerita tentang Afiffaturr seorang. Ini bisa sangat relate dengan banyak lelaki dewasa di luar sana.

Tidak mudah menjadi musisi yang karyanya bisa masuk ke telinga banyak orang. Dan lagu-lagu Afif adalah satu di antaranya. Sering kali saya menguji beberapa lagu ke sejumlah kawan, lagu Afif selalu lolos. Liriknya kuat, setiap barisnya tampak dipikirkan secara sungguh-sungguh, sementara bebunyian dalam lagunya, nyaris selalu tepat, meskipun progresi chord-nya masih di situ-situ saja. Yang menarik karena ia tak terobsesi mengisi setiap ruang dengan bebunyian. Ia justru mengisi setiap ruang kosong itu dengan cerita, pengalaman, dan keresahannya sebagai manusia dewasa.

Saya suka gaya penulisan lirik Afiffaturr. Sebagai sesama musisi, saya tak akan malu-malu mengakui itu. Dan setiap bertemu orang yang suka mendengarkan musik, saya akan menyodorkan beberapa lagu, satu di antaranya “Sabar Menjadi Sadar”. Dari semua orang yang saya temui, mereka menyukai lagunya, bukan hanya karena melodi, atau vokal Afif yang teduh, tetapi juga karena liriknya. Sekali lagi, karena pilihan liriknya yang seringkali baru kita dengar di lagu-lagu yang ditulis oleh pria kalem dan rendah hati ini. Dalam penulisan lirik, Afif tampak sadar dengan satu prinsip sederhana: hindari menulis lirik yang sudah banyak dituliskan orang lain.

Dari sisi produksi, Siligaro Project sebagai produser sekaligus pengisi instrumen musiknya layak dipuji. Isian piano dan drum akustiknya enak, gurih. Ia berhasil memaksimalkan progresi chord yang sebenarnya umum dalam pop menjadi terdengar berbeda. Aransemennya pas, tak ada sesuatu yang berlebihan. Yang paling penting, Afif dan Siligaro Project tampak makin akrab secara musikal. Dan ini sangat penting dalam proses produksi musik.

Selamat Afif dan Siligaro Project! Setelah “Sabar Menjadi Sadar”, mungkin ini adalah lagu favorit saya berikutnya. Saya akan bilang bahwa lagu ini lebih berhasil dibandingkan single Afiffaturr sebelumnya yang entah, saya lupa judulnya.

Author