Oleh: Puja Mandela
Hadirin yang belum tentu berbahagia, mari kita sambut: Akaracita! Kali ini mereka akan membawakan single perdana berjudul “Jagau” yang baru saja dirilis pada 24 Agustus 2026.
Novyandi Saputra maju ke depan. Dosen musik Universitas Lambung Mangkurat itu kemudian memperkenalkan Akaracita kepada hadirin yang sedang terpapar kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
“Akaracita adalah kelompok musik kontemporer yang mencoba menghadirkan kembali gagasan tentang keberanian dan kepahlawanan Banua melalui bahasa musik yang dapat diterima oleh pendengar masa kini,” kata Novy.
Adegan itu muncul tiba-tiba di kepala saya saat mendengarkan “Jagau” lewat Spotify. Di luar tujuan utamanya untuk membawa lokalitas banjar ke ruang digital, “Jagau” bisa saja menjadi semacam obat bagi siapa saja yang sudah muak dengan komposisi, bunyi, dan lirik pop yang begitu-begitu saja. Akaracita dengan narasi kebudayaannya yang besar akan begitu mudah dikenali di tengah ribuan lagu yang dirilis setiap hari.
Bagi saya, tak hanya judulnya saja yang “Jagau”, Akaracita pun pantas disebut jagoan. Dengan niat memperdengarkan lagu ini ke generasi digital, dan sudah pasti ke Generasi Z, mereka sangat berani memasukkan bunyi gamalan yang tak presisi dengan bass, gitar, termasuk vokal, ke nyaris seluruh bagian lagu.
“Jagau” dimulai dengan rapalan mantra-mantra yang menarik, meski kita tak tahu apa artinya. Mantra-mantra itu terus berulang selama 21 detik sebelum gamalan banjar mengambil alih dan menjadi “jagoan komposisi”, lalu tampil sangat dominan dan menabrak siapa saja yang mendekatinya di nyaris seluruh bagian lagu. Saking jagoannya, bunyi gamalan ini tampak jauh lebih dominan dibanding vokal Intan Mutia dan semua instrumen musik yang ada. Ia tampak jauh lebih jagau daripada mantra-mantra yang diucapkan sepanjang lagu ini.
Sebagian orang mungkin akan mengira tabrakan-tabrakan bunyi yang terjadi adalah perkara teknis. Tapi bisa jadi itu adalah kesengajaan produksi. Dalam musik avant garde, hal-hal semacam ini adalah sesuatu yang lazim.
Lewat “Jagau”, Akaracita ingin menghadirkan gagasan tentang keberanian dan kepahlawanan Banua melalui bahasa musik. Sementara gagasan umum tentang menjaga eksistensi kebudayaan lokal ini memang sudah digaungkan sejak lama oleh Novy dan Akaracita. Sebuah niat mulia dari para pemuda yang tampaknya memang ingin tampil sebagai jagoan-jagoan kebudayaan.
Apakah narasi besar soal kebudayaan ini bisa dilahap oleh generasi digital? Tentu potensinya ada, bahkan boleh jadi cukup besar. Tapi sebelum itu dilakukan, Novy dan Akaracita perlu meyakinkan pendengarnya, terutama Generasi Z, sebagai target market utama, agar pendengar tak merasa rugi mendengarkan lagu penuh repetisi sepanjang nyaris lima menit.
Sebab membawa gamalan ke platform musim digital adalah satu perkara. Membuat orang menekan tombol play untuk kedua kalinya adalah perkara lain.
Ya, di situlah ujian yang akan dihadapi para pemuda jagoan kebudayaan ini.





