INTERAKSI.CO, Kintap – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Sekitar 1.300 warga mendapatkan layanan kesehatan gratis melalui kegiatan bakti sosial di Kecamatan Kintap.
Kegiatan tersebut digelar pemerintah daerah bersama tujuh perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan, pertambangan, dan kehutanan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak asap karhutla.
Bupati Tanah Laut Rahmat Trianto mengatakan, asap yang ditimbulkan karhutla menjadi salah satu persoalan yang saat ini dihadapi masyarakat, terutama karena dampaknya terhadap kesehatan.
“Yang kita hadapi saat ini adalah kebakaran hutan dan lahan yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat, khususnya akibat asap yang ditimbulkan,” kata Rahmat, dikutip dari Antara, Sabtu (26/9/2026).
Menurutnya, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan setelah kebakaran terjadi. Upaya pencegahan juga harus diperkuat dengan melibatkan masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di kawasan yang rawan kebakaran.
Masyarakat Perlu Dilibatkan
Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalimantan Selatan Jimmy S. Kalianda mengatakan, pemerintah maupun perusahaan tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi karhutla.
Ia menjelaskan, perusahaan pada dasarnya telah memiliki kewajiban menyediakan sarana dan prasarana untuk penanggulangan kebakaran. Namun, potensi kebakaran juga dapat muncul di luar kawasan perusahaan, termasuk lahan yang belum ditanami atau belum tertangani.
Karena itu, Jimmy mendorong adanya keterlibatan masyarakat melalui kelompok masyarakat peduli api.
“Yang lebih penting sebenarnya adalah membangun kebersamaan, kesadaran bersama dan komitmen bersama untuk menanggulangi masalah seperti ini,” ujarnya.
Menurut Jimmy, pengguna dan penggarap lahan dapat dilibatkan dalam kelompok tersebut untuk membantu mendeteksi wilayah rawan dan melakukan pencegahan sejak dini.
Masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di sekitar lahan dinilai memiliki pengetahuan mengenai kondisi wilayah, termasuk lokasi yang berpotensi mengalami kebakaran.
“Mereka lebih memahami kondisi di lapangan karena sudah terbiasa berada di wilayah tersebut. Mereka tahu bagaimana kondisi lahannya dan titik-titik mana yang rawan,” katanya.
Ia berharap keterlibatan masyarakat dapat dilakukan secara lebih terorganisasi. Pemerintah dan perusahaan dapat mendukung kelompok masyarakat tersebut melalui penyediaan peralatan serta fasilitas yang diperlukan.
Media juga diharapkan turut membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya karhutla dan pentingnya melakukan pencegahan.
Tujuh Perusahaan Terlibat
CEO Sinar Mas wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur Suryanto Bun mengatakan, bakti sosial di Kintap digelar sebagai respons terhadap kondisi masyarakat yang terdampak asap karhutla.
Kegiatan kali ini melibatkan enam perusahaan lain yang beroperasi di sekitar Kecamatan Kintap.
Tujuh perusahaan yang terlibat terdiri dari empat perusahaan perkebunan, yakni PT SMART Tbk, PT GMK, Sinar Alam Plantation, dan PT KJW.
Dua perusahaan lainnya berasal dari sektor pertambangan, yakni PT WBP dan PT BIB. Satu perusahaan lainnya merupakan perusahaan hutan tanaman industri, PT HRB.
Suryanto mengatakan, pihaknya menargetkan dapat memperluas kolaborasi dengan menggandeng hingga 100 mitra dalam kegiatan sosial serupa selama lima tahun mendatang.
“Target Sinar Mas dalam lima tahun ke depan adalah bagaimana kami bisa menggandeng sebanyak 100 mitra dalam kegiatan sosial seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, perusahaan yang diajak berkolaborasi memberikan respons cukup cepat. Kegiatan layanan kesehatan serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun atau disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Tingginya jumlah warga yang datang juga menjadi perhatian penyelenggara. Sekitar 1.300 warga tercatat mendapatkan layanan kesehatan dalam kegiatan tersebut.
“Jumlah pasien yang mencapai sekitar 1.300 orang menunjukkan antusiasme dan kebutuhan masyarakat yang sangat besar. Ini menjadi tantangan bagi kami untuk ke depan bisa berbuat lebih banyak lagi bagi masyarakat yang membutuhkan,” kata Suryanto.
Layanan kesehatan tersebut menjadi salah satu bentuk penanganan dampak karhutla terhadap masyarakat. Di sisi lain, penguatan pencegahan melalui kolaborasi pemerintah, perusahaan, dan masyarakat tetap diperlukan untuk mengurangi risiko kebakaran dan dampak asap di wilayah rawan karhutla.





