Kalau anda hidup di sekitar tahun 1970 hingga 1980-an, anda akan mengenal satu sosok aktor laga yang sangat terkenal, namanya Chen Kuan Tai. Kala itu ia sangat berjaya. Hampir semua film silat yang sangat digemari, dibintangi oleh aktor laga ini. Ia tinggal di Hongkong, melatih diri dalam ilmu bela diri sejak masih belia, kemudian dengan kemampuan bela dirinya itu, dipercaya menjadi bintang film laga.

Namanya sangat populer pada masa kejayaan film-film silat klasik yang diproduksi oleh Shaw Brothers. Terutama kariernya meroket, setelah membintangi peran utama dalam film “Boxer From Shantung” (Man of Iron) tahun 1972, yang menjadi film ikoniknya dan membuatnya sangat terkenal dan tentu kaya raya.

Selama periode itu (70-80-an), Chen Kuan Tai setidaknya membintangi lebih dari 165 film, dengan memerankan tokoh-tokoh legendaris yang kuat, berwibawa, ditakuti lawan. Sering beradu akting dengan bintang laga ternama lainnya seperti Ti Lung, David Chiang, dan Fu Sheng. Bahkan, Chen Kuan Tai pernah membintangi film Indonesia berjudul “Pertarungan Kera Sakti”. Pada film tersebut ia berperan sebagai Wong Lee, disutradarai S.A. Karim. Film ini diproduksi tahun 1977 dan masih popular hingga tahun 1996.

Ternyata, masa puncak popularitas ada batasnya, seketika tanpa disangka, terjadi perubahan industri film kungfu yang mengutamakan kecepatan dan efek visual, dan mulai meninggalkan hal-hal yang bersifat klasik dengan pesan-pesan moral dan keteladaan atau kewibawaan. Semua itu memengaruhi perjalanan Chen Kuan Tai dalam dunia film.

Kejayaan sang tokoh perlahan memudar. Kesuksesan dengan sorotan lampu kamera yang sebelumnya disangka abadi seketika meredup. Kala itu, banyak orang mengira dia akan abadi sebagai aktor laga yang tiada tanding. Ternyata kejayaan dengan segala kegemerlapan akhirnya memudar juga.

Awalnya dia merasa kalah, tersingkir dan diabaikan. Tepuk sorai kekaguman tiba-tiba tidak terdengar lagi. Bahkan undangan sekedar menghadiri acara-acara film dan serimonial, sudah tidak diterimanya lagi. Dia ditinggalkan, sendirian dan berjuang melawan rasa sakit.

Tiba-tiba, segala bentuk perjuangan menempa diri yang telah ia jalani semenjak belia, terasa menjadi satu bentuk kesakitan yang mulai bermunculan. Ada luka, kelelahan bathin, terpendam dalam pikiran dan perasaan, menggumpal menjadi kekecewaan.

Penghormatan berubah menjadi kesunyian. Masalah finansial lantas mulai menjadi persoalan. Ternyata kejayaan tidak menjamin kehidupan. Mau tidak mau hidup harus lebih sederhana. Yang ia rasakan, bukan sekedar kehilangan peran, tapi kehilangan jati diri, tidak lagi dipuji. Rasa bangga hanya tersisa dalam ingatan. Bukan karena kurang kemampuan atau kurang ahli, tapi dunia sudah berubah dan meninggalkannya jauh di belakang.

Dengan terpaksa Chen Kuan Tai harus berubah. Awalnya seperti satu bentuk kekalahan. Bahkan banyak orang mengatakan bahwa Chen Kuan Tai yang tak terkalahkan dalam film-film laga, ternyata kalah oleh waktu dan perubahan.

Ia lalu mengubah haluan, mengatur strategi, tidak lagi ego mengejar peran-peran utama. Ia mengambil peran lain yang lebih sederhana. Baginya, ini bukanlah kemuduran atau pun kekalahan, tapi cara untuk bertahan. Bersamaan itu ia mencoba lebih memaknai cara berperan yang sebenarnya, dengan kedalaman emosional dan totalitas walau peran-peran kecil.

Ia mula menempatkan diri sebagai guru, berbagi ilmu kepada yang muda, menjadi pelatih dan mentor dengan berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Ia berbagi tentang luka dan kedukaan yang pernah dialami. Belajar menerima perubahan, berdamai dengan situasi, dan menyesuaikan diri semaksimal mungkin atas apa yang dapat dilakukan. Tentu satu pertarungan bathin dan ego yang tidak mudah. Dari aktor utama yang disanjung, menjadi pendukung dengan peran-peran kecil.

Memang tidak dapat dipungkiri, kesalahan dari kebanyakan aktor seperti Chen Kuan Tai, tidak mempersiapkan dirinya sejak dari awal untuk kemudian menjadi produser, sutradara, penulis naskah atau koreo fighting di movie, karena merasa nikmat di zona nyamannya. Karena tidak mempersiapkan sejak dini, setelah tidak laku, sulit berkembang dan menyesuaikan diri.

Perjalanan Chen Kuan Tai, mungkin juga menjadi pelajaran bagi aktor lainnya. Kalau mau membandingkan dengan Jacky Chan, Sammo Hung atau Donnie Yen, pasti semua tahu bagaimana mereka mengorbankan hartanya dan rela bernegosiasi dengan keadaan demi mendapatkan dana dalam pembuatan film. Walau tidak menjadi aktor utama dalam film yang mereka buat, yang penting masih berjaya dan mampu mengatur pekerjaan di belakang layar. Hal tersebut lebih baik dari pada bingung dengan perubahan yang cepat, berpotensi tersingkir dan kalah.

Hidup memang tidak perlu menonjolkan diri, yang penting karya diminati dan disukai banyak orang. Bersamaan itu, terus memperbanyak relasi dengan lingkungan atau orang-orang yang mampu memberikan dukungan dan pendanaan dalam melanjutkan karier di dunia perfilman.

Di lain sisi, perubahan generasi tidak dapat di lawan. Sebagaimana orang bijak berkata, “setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya”. Semenjak munculnya Jacky Chen, Andi Lau, Jet Lie, dan Chou Yun-Fat, aktor-aktor laga lawas macam Chen Kuan Tai, Chen Sing, Yasuaki Kurata, Wang Yu, dan David Chiang, mulai turun pamornya. Hanya Ti Lung yang agak bertahan, karena pada waktu itu dipercaya turut membintangi film Gangland Boss yang berjudul asli A Better Tomorrow, diproduksi tahun 1986 bersama Chow Yun-Fat.

Menyimak perjalanan Chen Kuan Tai, memberikan pelajaran yang sangat berharga tentang hidup, waktu yang begitu cepat, dan perubahan yang tidak dapat dilawan oleh apapun, termasuk oleh popularitas yang mendunia. Siapa yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, dan rela berdamai dengan segala keadaan, pasti akan bertahan.

Pun aktor-aktris lainnya di dunia nyata, pasti akan menemui perubahan yang tidak dapat dilawan. Bila tidak mampu menyesuaikan diri, mengubah strategi, taktik dan berdamai dengan posisi baru, alamat akan tersingkir, digantikan yang lain atau oleh keadaan yang memang tidak dapat dilawan.

Oleh: Noorhalis Majid

Author