Setiap kali melihat sapu ijuk, saya ingat lagu ini dan tentu wajah-wajah para pembual yang bilang kita akan menyongsong era keemasan, tapi hidup sehari-hari penuh kecemasan, yang bilang akan menuju kampus kelas dunia tapi sinyal wifi kampusnya mampus.
Oleh Sainul Hermawan
Saya suka dangdut karena saya orang kampung yang orang-orangnya kebanyakan hanya menyukai dua jenis musik: qasidah dan dangdut. Musik ini marak di udara pada musim perkawinan.
Pada musim itu, suara dangdut yang dipancarkan lewat TOA membahana sejak pagi sampai menjelang tengah malam. Hanya adzan pengingat sholat yang bisa menjedanya. Tabu bagi mereka jika acara perkawinan tanpa dangdutan. Karena itulah sejak kecil saya akrab dengan suara Rhoma Irama, Iis Dahlia, Itje Trisnawati, Imam S. Arifin, Mansyur S, Iyeth Bustami dan Evie Tamala.
Meski begitu, tak semua lagu dangdut nyaman di hati saya karena saya menyimaknya bukan cuma dengan telinga. Sebagian besar lagu mereka telah mati dan terusir dari daftar putar saya di aplikasi pemutar musik. Sebagian kecil hidup kembali dan mengisi hari-hari saya ketika bosan menyimak musik orkestra yang terlalu rumit atau musik tekno yang kaku. Kehadiran kembali mereka karena ada konteks baru di sekitar saya.
Misal, lagu “Tabir Kepalsuan” Rhoma Irama. Saya kembali sering memutar lagu ini untuk terus sadar agar tidak terjerumus dalam jurang kepalsuan. Anda pernah dengar kasus Guru Besar Abal-Abal? Kasus itu terjadi karena dugaan pelanggaran kode etik akademik.
Sebagian karya yang mereka gunakan sebagai syarat mencapai jabatan itu diduga palsu atau bukan karya mereka sendiri. Ada tangan-tangan gaib yang bermain di belakang layar dan konon melibatkan aliran dana yang cukup fantastis.
Bukan cuma itu, setiap menyimak lagu ini saya teringat dengan wajah-wajah kawan yang tulisannya sangat sempurna dan dipuji banyak orang, tapi ternyata tulisan itu karya mesin kecerdasan buatan. Lagu ini mengingatkan saya tentang hidup dalam kepungan kepalsuan. Kepalsuan dikemas untuk meraih kekuasaan yang palsu.
Lagu dangdut lain yang sering saya putar adalah “Ijuk” Iyeth Bustami. Lagu ini mencuat lagi dalam daftar putar lagu-lagu dangdut saya menjelang Aruh Sastra Kalsel 2024 di Barabai. Barabai dikenal antara lain sebagai produsen beberapa produk berbahan ijuk. Lagu ini secara tak langsung juga bicara tentang tabir kepalsuan dengan menyeret ijuk ke ruang perbandingan. Coba perhatikan bait pertamanya:
Yang mana rambut bila bersanding ijuk
Beras taklah sama putih
Yang mana padi mana ilalang
Hampir tak dapat dibedakan
Bualan dan kasih sayang
Setiap kali melihat sapu ijuk, saya ingat lagu ini dan tentu wajah-wajah para pembual yang bilang kita akan menyongsong era keemasan, tapi hidup sehari-hari penuh kecemasan, yang bilang akan menuju kampus kelas dunia tapi sinyal wifi kampusnya mampus. Meski sedih, lagu ini cukup menenangkan hidup di sekitar para pembual.
Lagu ini pun ingin saya bagikan dengan mahasiswa yang ingin membual kepada saya dengan mengirimkan karya tulis buatan kecerdasan buatan tapi diklaim sebagai karyanya. Dia lupa bahwa petani yang sangat sayang dengan pekerjaannya bisa membedakan padi dan ilalang. Saya ingin jadi petani yang penyayang, yang menyingkirkan bualan dengan lagu-lagu yang menyenangkan dan diharapkan membekas lama.
Lagu Iyeth yang lain, “Laksamana Raja di Laut”, juga sering menemani hari-hari saya. Lagu ini salah satu model lagu dengan bait-bait pantun berima lengkap: di depan, dalam, dan akhir. Pantun seperti ini sulit bagi pemula. Lagu ini jadi pemandu saya mengenali pantun-pantun genit yang cuma sibuk dengan rima akhir. Coba simak salah satu bait ini:
Kembanglah goyang atas kepala
Lipatlah tangan sanggul dipadu
Kita berdendang bersuka ria
Lagulah zapin, aduhai sayang, rentak Melayu
Lagu dangdut lain yang juga lama membekas dalam daftar putar saya adalah “Selamat Malam” Evie Tamala. Lagu ini mendekatkan saya dengan perempuan yang kemudian menjadi pasangan jiwa pada puluhan tahun silam di lokasi KKN yang dingin, dingin yang harfiah. Setiap ada waktu berkumpul bersama tim, satu orang yang pandai memainkan gitar mendaulat setiap peserta untuk menyanyi dan lagu ini jadi andalan saya. Tujuannya cuma satu: agar dia ingat saya lewat lagu Evie ini.
Saya tahu dia tak suka dangdut tapi dia jadi ingat bahwa sahabat yang dia kenal selalu nyanyi lagu pop dan slow rock juga bisa nyanyi dangdut.
Beberapa tahun kemudian Seno Gumira Ajidarma menulis cerpen sebagai respons atas lagu ini, tapi tentu dengan alur yang berbeda. Seno bercerita tentang cinta seorang penarik becak di Jogja kepada seorang biduan dangdut idolanya. Pada malam yang dingin, penarik becak itu membeli sekuntum mawar merah yang ingin ia berikan kepadanya tapi nasibnya tak mujur. Ia gagal menyerahkan mawar itu. Dia pulang dengan hati yang sedih dan memberikan mawar itu kepada istrinya yang sedang tidur pulas. Saat terbangun, sang istri mungkin senang dibawakan bunga, bunga yang sejatinya ingin diberikan oleh suaminya kepada perempuan lain: penyanyi dangdut.
Tafsir Seno pada lagu Evie adalah wujud kepalsuan lain yang bisa dilakukan oleh seseorang atas orang lain. Seno seperti meneteskan cuka pada secangkir caramel macchiato. Dangdut yang manis dan romantis jadi agak anarkis, seperti janji-janji manis para politikus yang pelan-pelan membusuk sebau bangkai tikus.
*
Penulis adalah Dosen Pascasarjana ULM




![[Review] Wildoze dan Angka 27](https://interaksi.co/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260226-WA0014-218x150.jpg)
