INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, H. M. Syaripuddin, mendesak pemerintah segera melakukan audit keselamatan secara menyeluruh di jalur alternatif Banjarbaru–Batulicin.

Desakan itu disampaikan menyusul kecelakaan maut yang kembali terjadi di ruas jalan tersebut hingga merenggut tujuh nyawa.

Politikus yang akrab disapa Bang Dhin itu menegaskan, jalur alternatif Banjarbaru–Batulicin dibangun untuk mempercepat konektivitas antarwilayah dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, menurutnya, tujuan tersebut tidak boleh dibayar dengan keselamatan masyarakat.

“Jalur ini dibangun untuk mempercepat konektivitas dan menggerakkan ekonomi. Namun, manfaat tersebut jangan sampai dibayar dengan nyawa masyarakat. Pemerintah tidak cukup hanya mengimbau pengendara agar berhati-hati,” tegas Bang Dhin.

Ia meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalimantan Selatan, Dinas Perhubungan Kalimantan Selatan, serta kepolisian segera melakukan pemetaan titik-titik rawan kecelakaan.

Selain itu, pemerintah diminta melengkapi ruas jalan dengan rambu lalu lintas, marka reflektif, penerangan jalan, pagar pengaman, pita penggaduh (rumble strip), hingga pembatas kecepatan.

Bang Dhin juga menilai kondisi tikungan tajam, tanjakan, turunan, permukaan jalan, serta kesiapan layanan darurat di sepanjang jalur tersebut harus dievaluasi secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Jangan menunggu korban berikutnya. Harus ada tindakan cepat, anggaran yang jelas, dan perbaikan permanen. Keselamatan masyarakat wajib menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Ia turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban meninggal dunia dan berharap korban yang masih menjalani perawatan segera pulih.

Kecelakaan terakhir terjadi pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 11.30 Wita di Jalan Alternatif Batulicin–Banjarbaru, Desa Gunung Raya, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu.

Berdasarkan laporan kepolisian, kecelakaan bermula saat mobil tangki yang melaju dari arah Banjarbaru menuju Batulicin diduga hilang kendali hingga masuk ke jalur berlawanan dan bertabrakan dengan mobil pikap operasional Desa Batulicin Irigasi.

Berdasarkan data sementara, insiden tersebut mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia dan satu orang mengalami luka berat.

Korban meninggal dunia yakni Abdi Cahya Girsang (mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat), Muhammad Ramadhani (mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat), Tegar Mangku Alamsyah, Nafa Izzatu Jannah (mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan), Nur’aini Salsabila (mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan), Veri Andi Saputra (pengemudi pikap sekaligus mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan), serta M. Ilyas, pengemudi mobil tangki.

Sementara itu, satu korban luka berat yang dirujuk ke RS Marina adalah M. Fahrizal Hasbi, mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat. Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan kepolisian.

Author