INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Facebook genap berusia 22 tahun. Pada momen ulang tahun platform media sosial terbesar di dunia itu, pendirinya Mark Zuckerberg membagikan nostalgia tentang masa-masa awal membangun Facebook saat masih menjadi mahasiswa di Universitas Harvard.

Melalui unggahan di media sosial, Mark Zuckerberg mengenang kebiasaan begadang di asrama Harvard sambil menulis baris demi baris kode pertama Facebook.

Untuk memperkuat suasana nostalgia tersebut, Zuckerberg turut membagikan sebuah playlist Spotify berjudul “2004 Facebook coding jams”.

Playlist tersebut berisi daftar lagu yang sering ia putar saat tengah malam ketika mengerjakan kode awal Facebook. Menariknya, lagu-lagu dalam playlist itu didominasi oleh musik emo dan rock alternatif yang populer di era awal 2000-an.

2004 Facebook Coding Jams

Baca juga: Besok, Iwan Fals Bakal Manggung di Pesta Rakyat Tapin

Beberapa judul yang masuk dalam daftar tersebut antara lain “The Reason” dari Hoobastank dan “In the End” dari Linkin Park.

Lagu-lagu tersebut dikenal luas sebagai anthem generasi 2000-an dan menjadi latar emosional bagi banyak anak muda di masa itu, termasuk Zuckerberg.

Pilihan musik ini menggambarkan suasana batin seorang mahasiswa muda yang tengah membangun proyek besar dari kamar asrama.

Dari aktivitas sederhana mendengarkan musik sambil ngoding, Facebook perlahan berkembang menjadi platform global yang kini digunakan miliaran orang di seluruh dunia.

Zuckerberg sendiri dikenal sebagai sosok yang sejak awal membangun Facebook dengan pendekatan eksperimental.

Proyek yang awalnya hanya ditujukan untuk mahasiswa Harvard itu kemudian berkembang pesat, meluas ke kampus lain, hingga akhirnya menjadi jejaring sosial raksasa dengan pengaruh besar terhadap komunikasi global, ekonomi digital, dan budaya populer.

Perayaan ulang tahun ke-22 Facebook ini menjadi pengingat bahwa perusahaan teknologi besar sering kali berawal dari ide sederhana, kerja keras, dan ketekunan.

Lewat playlist “2004 Facebook coding jams”, Zuckerberg seolah mengajak publik menengok kembali ke masa ketika Facebook masih sebatas proyek iseng yang dikerjakan larut malam, ditemani musik emo-rock yang kini menjadi bagian dari sejarah.

Author