Oleh: Noorhalis Majid
Dangsanak, untung kita masih punya agama. Kalau tidak ada agama, yang berfungsi sebagai pedoman dan tuntunan, menenangkan bathin dan jiwa, menyaksikan segala fenomena belakangan ini, mungkin kita sudah gila, atau minimal stress.
Sesak rasanya dada, menyaksikan dan mendengar betapa masifnya perlombaan penyalahgunakan jabatan dan kewenangan, semata untuk korupsi. Nampak tidak ada tujuan lain, kecuali korupsi. Hilang rasa malu, apalagi rasa bersalah.
Bayangkan, Jaksa ditangkap Polisi. Polisi ditangkap Jaksa. Tentara menjaga rumah Jaksa, dan minta uang temuan dan sitaan dikembalikan. Jendral mentereng terciduk korupsi. Kepala daerah digelandang KPK. Kepala BGN dan rombongannya diseret ke penjara. Semua ngaku aparat berintegritas, nyatanya keparat.
Adakah lagi yang bisa dibicarakan soal hukum, norma, etik, moral, tata kelola pemerintahan, good governance, apalagi soal zona integritas, bebas maladminsitrasi dan WTP. Semua itu jadi percuma. Sekedar kamuflase saja.
Akibatnya, segala yang mengaku memiliki otoritas, sudah tidak dipercaya. Kepercayaan terhadap lembaga-lembaga pemerintahan, termasuk para pejabatnya, digantung di tiang-tiang keputusasaan. Makin bicara, makin banyak terungkap salahnya. Makin mengatasnamakan kesejahtraan rakyat, makin besar manipulasinya.
Persis di tengah warga yang hidup dalam kesusahan. Di tengah menahan rasa lapar karena menderita miskin ekstrim. Harga-harga melambung ke langit. Beragam pajak yang membelit diberlakukan. Tetiba terungkap, semakin banyak aparat dan pejabat yang korupsi. Bukan dalam jumlah kecil. Hingga jumlah yang membuat rekan aparat itu sendiri hampir pingsan melihatnya.
Menjadi pejabat dan aparat, bukan lagi untuk mengabdi. Melainkan jalan pintas merampok uang negara, untuk kekayaan diri sendiri. Penyalahgunaan kewenangan, menjual kedudukan dan jabatan, dianggap perkara biasa, hal lumrah.
Para pejabat banyak yang tidak fokus pada perbaikan kebijakan dan program kerakyatan, apalagi untuk penuntasan kemiskinan. Akibatnya, kemiskinan terus meningkat, jurang kesenjangan melebar, gini ratio semakin mengkhawatirkan. Kalau pun ada angka-angka statistik yang nampak menggembirakan, itu semua hanya berakhir pada angka, kenyataannya tidak seperti itu, jauh panggang dari api. Angka prestasi, dengan cepat menguap, seiring hilangnya kepercayaan warga.
Dangsanak, untung masih ada agama, sehingga masih bisa istigfar. Walau sering kali agama juga dipakai untuk korupsi. Untuk manipulasi, dijadikan topeng, kedok dan kepura-puraan. Buktinya, proyek kitab suci dikorupsi, haji dikorupsi, santunan anak yatim juga ditilep. Ngaku aparat, nyatanya keparat.





