INTERAKSI.CO, Jakarta – Pemerintah mempercepat penyelesaian restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh).

Kementerian Keuangan menargetkan proses pengalihan pengelolaan utang dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dapat diselesaikan pada pertengahan September 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pembahasan mengenai restrukturisasi tersebut telah dilakukan bersama Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, dalam pertemuan di Kementerian Keuangan, Rabu (5/8/2026).

“Ini diserahkan dari Danantara ke Kementerian Keuangan. Prosesnya kami percepat, mungkin pertengahan September sudah selesai,” ujar Purbaya.

Baca juga: Bantuan Pangan Beras 30 Kg Mulai Disalurkan Agustus 2026, Sasar 33,24 Juta KPM Jelang HUT ke-81 RI

Meski Kementerian Keuangan akan mengambil alih pengelolaan utang proyek Whoosh, Purbaya menegaskan langkah tersebut tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurutnya, pengelolaan utang akan dilakukan melalui salah satu special mission vehicle (SMV) atau lembaga khusus di bawah Kementerian Keuangan yang selama ini menangani berbagai instrumen pembiayaan pemerintah.

“Nanti akan kami pakai salah satu tangan SMV fiskal untuk mengelola itu,” katanya.

Selain restrukturisasi utang, pemerintah juga menyiapkan perubahan tata kelola PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Purbaya menyebut KCIC nantinya akan berada di bawah koordinasi Kementerian Keuangan. Dengan skema tersebut, perusahaan pengelola Whoosh tidak lagi berada di bawah PT Kereta Api Indonesia (Persero), yang saat ini menjadi pemegang saham mayoritas dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

Ia juga mengungkapkan pemerintah China masih menunjukkan komitmen terhadap proyek kereta cepat tersebut, termasuk membuka peluang pengembangan jalur hingga Jawa Timur.

Restrukturisasi Whoosh merupakan bagian dari rencana pembentukan Komite Nasional Kereta Cepat yang sebelumnya diusulkan pemerintah.

Komite tersebut direncanakan dipimpin Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono. Saat ini, pembentukannya masih menunggu terbitnya Peraturan Presiden (Perpres).

Kinerja Keuangan Masih Tertekan

Langkah restrukturisasi dilakukan di tengah tekanan keuangan yang masih dialami proyek Whoosh.

Laporan keuangan konsolidasian interim PT Kereta Api Indonesia (Persero) Semester I 2026 menunjukkan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) membukukan rugi bersih sebesar Rp5,13 triliun, meningkat dibandingkan kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,99 triliun.

Selain itu, total aset PSBI turun dari sekitar Rp25,2 triliun menjadi Rp21,5 triliun, sementara liabilitas meningkat hingga mencapai sekitar Rp21,5 triliun.

Sebelumnya, laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang terbit pada Desember 2025 juga memproyeksikan PSBI masih akan mengalami kerugian hingga 2029.

KCIC Optimistis Tingkatkan Kinerja

Menanggapi rencana restrukturisasi tersebut, Corporate Secretary PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Eva Chairunisa, menyatakan pihaknya mendukung langkah pemerintah dalam mencari solusi terbaik bagi proyek Whoosh.

Saat ini KCIC masih melengkapi data yang dibutuhkan Kementerian Keuangan dan Danantara dalam proses restrukturisasi.

Di sisi operasional, KCIC terus berupaya meningkatkan jumlah penumpang melalui berbagai program promosi, termasuk Whoosh Value Plus, yang memberikan berbagai keuntungan seperti akses gratis ke sejumlah destinasi wisata, promo kuliner, hingga potongan harga penginapan bagi pengguna Whoosh.

Selain itu, KCIC juga terus berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk meningkatkan aksesibilitas menuju stasiun-stasiun Whoosh, seperti Karawang, Padalarang, dan Tegalluar.

Author