INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali digulirkan di wilayah Kalimantan Selatan guna mendukung percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta menekan risiko kabut asap.
Penyemaian awan ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, terhitung sejak 5 hingga 8 September 2026.
Pelaksanaan OMC kali ini merupakan kelanjutan usai operasi serupa pada 15–21 Juli lalu dihentikan sementara akibat kondisi atmosfer yang belum mendukung ketersediaan awan potensial.
Penerbangan perdana telah dilakukan pada Sabtu (5/9/2026) sore. Pesawat berkode PK-SNK lepas landas dari Lanud Sjamsudin Noor, Banjarbaru, mengangkut sekitar satu ton garam halus (natrium klorida/NaCl) untuk disemai di atas awan potensial wilayah utara Kalsel guna menstimulasi terjadinya hujan.
Tenaga Ahli Pendukung Kepala BNPB, Brigjen TNI (Purn) Herman Hidayat, menjelaskan bahwa keputusan mengudara kembali diambil usai melakukan evaluasi berkala bersama BMKG dan pemerintah daerah.
”Atas evaluasi dan koordinasi bersama BMKG Pusat, UPT Klimatologi, hingga pemerintah daerah, kondisi awan di wilayah Kalsel saat ini sudah memungkinkan untuk dilaksanakan OMC,” terang Herman.
Sementara itu, Flight Scientist Coordinator PT Milan selaku operator OMC, Arsyad, mengungkapkan bahwa pelaksanaan penyemaian sangat bergantung pada kondisi dan pertumbuhan awan potensial. Karena itu, data prediksi cuaca BMKG menjadi acuan utama operasi untuk membantu mempercepat proses kondensasi.
”Berdasarkan prediksi BMKG, pertumbuhan awan dominan terjadi pada siang hingga sore hari, walau tidak menutup kemungkinan muncul di pagi hari,” jelas Arsyad, sembari menambahkan bahwa waktu serta wilayah penerbangan akan terus menyesuaikan perkembangan atmosfer.
Melalui modifikasi cuaca ini, curah hujan diharapkan dapat mengguyur kawasan rawan karhutla dan membasahi area gambut yang rentan terbakar. Langkah ini sekaligus membantu upaya pemadaman tim darat serta mengurangi paparan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.





