INTERAKSI.CO, Banjarmasin – UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan menggelar MTN Lab Residensi & Workshop Sastra x Wabul Sawi Festival pada 3–7 Agustus 2026 di Balairung Sari, Taman Budaya Kalsel.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari Kalimantan Selatan, Yogyakarta, hingga Jakarta untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman di bidang sastra.
Pada hari pertama pelaksanaan, Senin (3/8/2026), peserta mendapatkan materi dari Mikke Susanto, kurator sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Dalam paparannya, ia mengajak peserta memahami keterkaitan antara seni rupa dan sastra, khususnya dalam proses penciptaan dan pemaknaan sebuah karya.
Baca juga: Pra-Biennale Kalimantan 2026 Segera Digelar, Hadirkan 37 Perupa
Menurut Mikke, karya seni, termasuk puisi, selalu membuka ruang bagi beragam penafsiran sehingga maknanya tidak berhenti pada sudut pandang penciptanya.
“Karya seni itu multi tafsir. Termasuk puisi. Karya puisi yang diciptakan oleh penulisnya tidak lagi memiliki makna tunggal ketika sampai di hadapan pembaca. Puisi bisa mendapatkan tafsir yang beragam dari pembacanya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam dunia seni, seniman maupun penulis bukanlah satu-satunya pihak yang berhak menentukan makna sebuah karya.
“Dalam dunia seni, tafsir tidak dimiliki secara personal oleh seniman atau penulis,” katanya.
Mikke menambahkan, seni rupa dan sastra memiliki kesamaan pada aspek estetika. Keduanya menawarkan kedalaman makna yang dapat dipahami melalui berbagai sudut pandang.
Workshop tersebut diikuti 30 peserta yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan. Sebagian besar merupakan pelajar berprestasi pada Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026 cabang puisi, termasuk peserta dari Kotabaru dan Tabalong.
Selain pelajar, kegiatan ini juga diikuti guru, mahasiswa, serta penulis pemula yang ingin mengembangkan kemampuan menulis puisi.
Selama lima hari pelaksanaan, peserta tidak hanya mempelajari teori kepenulisan puisi, tetapi juga dibekali materi mengenai observasi, riset, proses kreatif, hingga praktik menulis karya sastra.
Sebagai puncak kegiatan, seluruh karya peserta akan dipentaskan dalam bentuk dramatisasi puisi sebagai ruang apresiasi atas proses kreatif yang telah dijalani selama workshop.
Peserta Mengaku Mendapat Wawasan Baru
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi berlangsung. Mereka aktif berdiskusi dan mengikuti setiap materi yang disampaikan narasumber.
Salah seorang peserta, Royyan, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru yang dapat menjadi bekal dalam menghasilkan karya sastra yang lebih baik.
“Sungguh membuka wawasan. Materi-materi yang disampaikan sangat berguna bagi kami, sehingga nanti bisa menghasilkan karya puisi yang lebih baik,” ujarnya.
Melalui MTN Lab Residensi & Workshop Sastra x Wabul Sawi Festival, Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan berharap dapat melahirkan generasi muda yang semakin kreatif serta mampu mengembangkan sastra, khususnya puisi, sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.





