INTERAKSI.CO, Banjarmasin — Banua Creative Festival 2025 menutup gelarannya pada 7 Desember 2025 dengan lonjakan kunjungan yang konsisten selama tiga hari.

Festival bertema “Titik Kumpul” ini mencatat 1.973 pengunjung pada hari pertama, 2.452 pengunjung pada hari kedua, dan 2.789 pengunjung pada hari ketiga, sehingga total estimasi kehadiran mencapai lebih dari 6.800 orang.

Pembukaan berlangsung pada 5 Desember 2025 dan diresmikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin, mewakili Gubernur Kalimantan Selatan.

Momen peresmian ditandai aktivasi “flashlight moment”, ketika seluruh audiens menyalakan lampu ponsel sebagai simbol bersatunya energi kreatif Banua. Ia menegaskan bahwa potensi ekonomi kreatif Kalimantan Selatan “sangat besar—berdaya saing dan mampu menjadi pilar pembangunan daerah.”

Baca juga: Tiga Penyair Kalsel Baca Puisi di Event Seni dan Sastra Balangan

Sejak pagi, festival dipenuhi aktivasi komunitas, termasuk tarian tradisi, sesi Tertawa Ria dari komunitas stand-up comedy, Banua Coffee Fest, serta aktivitas UMKM kreatif. Hari pertama ditutup dengan pertunjukan kolosal Opera Banjar: Saruni Pahlawan Bajau, karya 90 menit yang memadukan tari, syair Banjar, teater, musik panting, dan unsur visual modern. Pertunjukan ini menjadi magnet utama yang menyoroti identitas budaya Banjar.

Pada hari pertama, 25 tenant dari kategori kuliner, kriya, dan fesyen membuka layanan. DPC Gekrafs Kotabaru menjadi salah satu tenant paling mencuri perhatian. Ketua HIPMI Kalimantan Selatan, Putra Qomaluddin Attar Nuriqli, menyampaikan apresiasinya terhadap kerja komunitas dan GEKRAFS Kalsel.

Memasuki 6 Desember 2025, festival mencatat antusiasme publik yang terus meningkat. 2.452 pengunjung hadir pada hari kedua. Program dibuka dengan Rasa Banua bersama Chef Agus Sasirangan, yang mengajak publik memahami rempah dan filosofi Soto Banjar.

Siang hari diisi IDEAFORUM & Community Talks bersama Handoko Hendroyono, Co-Founder MBloc Space dan Founder Filosofi Kopi, yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam pembangunan ekosistem kreatif.

Sore hingga malam hari diisi Sound On yang menampilkan musisi Kalimantan Selatan, sebelum ditutup oleh The Panturas yang memenuhi area festival.

Aktivitas UMKM terus hidup dengan 25 tenant kuliner, kriya, dan fesyen, termasuk Kune Mulya yang ramai dibicarakan karena desain urban-nya. Handoko menyebut festival ini sebagai “benih yang bagus” karena pelaku kreatif dan pengunjung saling belajar tanpa sadar.

Pada 7 Desember 2025, festival memasuki hari penutup. Sejak pukul 05.00 WITA, Sporty Morning menarik kehadiran komunitas melalui Fun Running bersama FFR dan Zumba bersama Zin Lita dan Zin Isma.

Siang hari, IDEAFORUM #2 membahas strategi pengembangan industri kreatif bersama Iwan Fitriady, (Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalsel), Rudi Nugraha, (Kabid Pertunjukan, Event Pariwisata & Ekraf Kotabaru), dan Andi Fitri,(Ketua DPW GEKRAFS Kalsel).

Sementara itu, Layar Film Banjar dan panggung Sound On kembali menarik generasi muda lewat penampilan musisi lokal seperti Camaraderie, A.R.K, RCKA, Penghantar, dan Si Madhava. Puncak hari ketiga terjadi pukul 21.40–22.30 WITA, ketika Kunto Aji tampil dan disambut ribuan penonton.

Secara keseluruhan, festival menghadirkan lebih dari 50 tenant kreatif dari kategori kuliner, kopi, fashion, kriya, dan komunitas kreatif. Perputaran transaksi UMKM mencapai lebih dari Rp 50 juta, dengan kolaborasi lintas komunitas dan subsektor meningkat signifikan. Penyelenggara juga menggelar penggalangan dana untuk korban bencana di Sumatera bekerja sama dengan BAZNAS Kalimantan Selatan.

Direktur Festival, Aswin Nugroho, menyatakan bahwa antusiasme publik melampaui ekspektasi. Ia menegaskan bahwa lonjakan pengunjung dan transaksi menunjukkan energi ekonomi kreatif Banua yang “terus bangkit dan bergerak.”

Dengan rangkaian program yang padat, partisipasi luas, serta interaksi lintas sektor yang intens, Banua Creative Festival 2025 menegaskan posisinya sebagai ruang bertemunya gagasan, jejaring, dan publik—serta momentum penting menuju ekosistem ekonomi kreatif Kalimantan Selatan yang inklusif, kompetitif, dan berkelanjutan.

Author