Oleh: Irma Wulandary

Kapan lagi ada lagu yang mewakili rasa kangenmu pada tempat kelahiran dan tempat kamu bertumbuh?

Lagu dari Puja Mandela yang berjudul “Batulicin” ini bisa jadi obat penawarnya.

Aku nggak akan mereview dari segi instrumen musiknya yang santun masuk ke telinga. Tapi aku coba mereview dari segi liriknya. Anggap saja aku sedang mereview puisi, hehe.

Menurutku yang awam ini, ada ciri khas di liriknya. Coba kamu dengarkan, deh. Kamu nggak akan menemukan lirik yang berulang, kecuali di bagian akhir, penghujung lagu!

Setiap baitnya punya cerita tersendiri. Ada cerita tentang masa keemasan festival musik, masa-masa sekolah, rental PlayStation, keluarga, perantau, dan cerita sepasang kekasih di dermaga.

Ada bait “di Batulicin kita bertemu”. Ini kalimat yang paling gong, sih. Kesannya dapat banget. Bahwa semua kenangan di setiap bait lirik bermuara dan berasal dari satu tempat, yaitu Batulicin.

Lagu ini bikin aku nostalgia saat mencari kepiting kecil di lumpur bakau memakai bawang merah yang diikat dengan tali benang. Anak 90-an yang tinggal di Batulicin pasti pernah merasakan ini. Apalagi sambil melihat Pulau Suwangi yang sekarang terasa semakin dekat.

Lagu ini pas banget jadi teman melamun di jembatan kayu di hilir Batulicin sambil melihat kapal nelayan atau kapal feri yang bersandar. Tapi hati-hati, ya, jangan kebanyakan melamun, karena di sana banyak buaya.

Selamat menikmati lagu dan liriknya…

Author