INTERAKSI.CO, Loksado – Lebih dari 35 anak muda dari berbagai latar belakang agama mengikuti kegiatan Live In Antar Iman yang diselenggarakan LK3 Banjarmasin di Balai Adat Wariung, Desa Muara Ulang, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), pada 23–26 Juli 2026.
Program tahunan yang telah digelar sejak pertengahan tahun 2000-an itu bertujuan menumbuhkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya merawat keberagaman, memahami religiusitas masyarakat adat, serta meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Selama empat hari, para peserta tinggal bersama masyarakat adat di rumah-rumah warga dan terlibat langsung dalam berbagai aktivitas keseharian mereka. Selain mengikuti sesi pelatihan di Balai Adat Wariung, peserta juga melakukan pembelajaran lapangan untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat adat.
Mereka diajak menggali berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ketahanan pangan, nilai-nilai religius, tradisi perkawinan, keberlanjutan generasi, hingga praktik-praktik lokal dalam menjaga keseimbangan alam.
Peserta kegiatan berasal dari Banjarmasin, Banjarbaru, serta pemuda adat setempat. Seluruh peserta membaur tanpa membedakan latar belakang agama maupun budaya, berdialog, dan saling belajar memahami keberagaman.
Direktur LK3 Banjarmasin, Abdani Sholihin, mengatakan pengalaman hidup bersama masyarakat adat menjadi bagian penting dalam membangun kepedulian sosial dan semangat toleransi di kalangan generasi muda.
“Tinggal bersama masyarakat adat, tidur di rumah-rumah warga, dan ikut menjalani aktivitas keseharian mereka merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk menanamkan kepedulian dan memperkuat persaudaraan antariman,” ujarnya.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah fasilitator dari berbagai organisasi, di antaranya Wawan Gunawan dari Jakatarub Bandung yang mewakili Mission 21, Berry Nahdian Furqon dari Ambin Demokrasi, Direktur WALHI Kalimantan Selatan Raden Rafiq Sepdian, serta Noorhalis Majid dari LK3 Banjarmasin.
Para fasilitator membekali peserta dengan materi mengenai toleransi, keberagaman, religiusitas masyarakat adat, hingga pentingnya menjaga ekologi sebagai bagian dari keberlanjutan kehidupan.
Salah seorang peserta, Nanda, mahasiswa Universitas Islam Kalimantan (Uniska), mengaku memperoleh pengalaman yang tidak terlupakan selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Interaksi dengan peserta lain dan masyarakat adat memberikan pengalaman yang sangat berharga. Kegiatan ini bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga mengajarkan bagaimana hidup bersama orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda,” katanya.
Kesan serupa juga disampaikan Wawan Gunawan. Menurutnya, pengalaman bermalam selama tiga malam bersama masyarakat adat menjadi pembelajaran yang istimewa, termasuk menikmati nasi dari beras usang hasil panen sekitar 15 tahun lalu yang masih tersimpan dengan baik.
“Semuanya terasa istimewa. Makanannya enak, tempat istirahat nyaman, dan mandi menggunakan air pegunungan yang jernih menjadi pengalaman yang sulit dilupakan,” ujarnya.
Abdani berharap program Live In Antar Iman dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai salah satu program unggulan LK3 Banjarmasin dalam membangun generasi muda yang terbuka terhadap keberagaman, memiliki kepedulian sosial, serta berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan.
“Kami ingin program ini terus berlanjut karena memberikan pengalaman nyata yang sangat bermakna bagi anak-anak muda dalam memahami toleransi, kemanusiaan, dan kehidupan masyarakat adat,” tutupnya.





