INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Setelah jembatan Saka Harang, Mantuil, Banjarmasin, ambruk pada Minggu (30/8) kemarin, warga setempat hanya mengandalkan jukung.

Warga menggunakan jukung untuk menyeberangkan orang dan sepeda motor dari siang hingga malam, terutama, mereka yang hendak melintas dari Mantuil menuju Pulau Bromo dan sebaliknya. Untuk sekali menyeberang, warga dikenai tarif sekira Rp 5.000 untuk orang dan sepeda motor.

Arpani, mulai mengoperasikan jukung mulai pukul 16.00 Wita sampai pukul delapan malam.

“Baru pertama ini, tadi diminta,” ucapnya saat ditemui, Minggu (30/8).

Warga Mantuil, Bagong, mengatakan Jembatan Saka Harang merupakan akses utama yang digunakannya setiap hari. Setelah jembatan terputus, ia kesulitan beraktivitas karena harus memutar melalui jalur alternatif, dengan selisih waktu sekitar 40 menitan.

“Siang malam lewat jembatan sini. Memutar jauh, terpaksa pakai jukung menyeberang,” katanya saat ditemui, Minggu (30/8).

Ia berharap pemerintah segera menyediakan jembatan darurat agar aktivitas warga kembali normal sembari menunggu perbaikan jembatan.

Jembatan ulin yang menghubungkan Jalan Mantuil dengan Pulau Bromo tersebut ambruk sekitar pukul 13.30 Wita. Satu unit truk dan sepeda motor ikut terjatuh saat jembatan runtuh. Untungnya tak ada korban dalam insiden tersebut.

Hingga pukul 20.00 Wita, warga masih menggunakan jukung sebagai akses penyeberangan sementara. Sementara itu, pada pukul 20.40 Wita, proses evakuasi truk yang terjatuh masih dilakukan untuk dipindahkan ke daratan.

Sedikitnya 12 RT terdampak akibat terputusnya akses jembatan tersebut. Pemerintah Kota Banjarmasin telah berkoordinasi dengan Kodim 1007/Banjarmasin untuk meminjam jembatan Bailey sebagai akses sementara hingga jembatan permanen dibangun.

Selain jembatan Bailey, Pemerintah Kota Banjarmasin segera mengoordinasikan pembuatan jalan alternatif dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Banjarmasin. Jalur tersebut disiapkan untuk menjaga mobilitas warga selama akses utama belum dapat digunakan.

Editor: Puja Mandela

Author