Oleh: Noorhalis Majid
Kebudayaan Banjar punya kosa kata yang sangat unik. Sulit mencari padanannya. Kata pendek, hanya 5 huruf. Kata itu berbunyi “purici”.
Maknanya kompleks, bahkan lengkap. Tidak sekedar menggambarkan keadaan atau kondisi yang nampak kotor bin jorok.
Purici, juga dapat dimaknai sebagai sikap, tindakan atau perbuatan yang tidak prosedural, sembarangan, sesukanya dan semaunya sendiri.
Membuang sampah sembarangan itu purici.
Membiarkan sampah memenuhi kolong rumah, itu purici.
Tidak menerapkan pola hidup sehat, disiplin dan tidak pernah peduli betapa kotornya lingkungan tempat tinggal, kampung dan kota ini, merupakan gambaran purici.
Termasuk sekehendak hati membuang sampah dari kaca mobil, adalah perbuatan purici.
Melakukan tindakan tanpa mempertimbangkan dampak dan akibat yang ditimbulkan, juga dianggap purici.
Bila tidak ingin disebut purici, hiduplah dengan bersih, teratur, disiplin, peduli pada lingkungan.
Kalau tindakan tidak mau dikatakan purici, patuhilah segala peraturan, ketentuan, hukum, norma dan kebiasaan baik.
Kata ini lahir, mungkin karena kebudayaan Banjar ingin melahirkan manusia yang perfeksionis. Suatu sifat atau karakter kepribadian yang selalu ingin tampak sempurna, tanpa cela, dan memiliki standar yang tinggi terhadap diri sendiri atau pun orang lain.
Atau, boleh jadi satu bentuk otokritik dari banyaknya sifat, sikap dan tindakan yang sembarangan, jorok, kotor, “marigat”, “mambarang”, yang pada puncaknya disebut dengan “purici”.
Saya lebih optimis, bahwa kata ini lahir karena kebudayaan Banjar ingin warganya hidup beradab, patuh pada aturan dan ketentuan, serta peduli pada sesama, pada lingkungan dan seluruh makhluk.
Sejatinya hidup harus berusaha perfeksionis, tidak mau melakukan hal-hal yang salah, karena satu kesalahan, dapat saja berdampak panjang, bahkan merubah hidup seseorang.
Sebab itu, sebagai apapun orang Banjar, hendaknya jangan purici. Bukan saja berakibat panjang, tapi juga melahirkan satu stigma komunal terhadap Banjar itu sendiri.
Boleh jadi karena lingkungan rumah kita kotor, kampung kita jorok penuh sampah, sungai terus dangkal karena hibak sampah, dan kota diserbu tumpukan sampah, maka suatu gambaran bahwa warganya memang “purici”.
Tanpa terucapkan, tumpukan sampah di banyak tempat, sudah menjadi potret tentang “purici”.
Pun kalau para pejabatnya tidak peduli, asik dengan dirinya sendiri. Program kebersihan kota tidak berkelanjutan, tidak simultan, dan tanpa menyentuh pembenahan karakter manusia-manusia yang memproduksi sampah, boleh jadi karena para pejabat dan seluruh pemangku kepentingan juga “purici”.
Kata ini, walau sangat menyakitkan, sudah jarang diucapkan.
Besok, mungkin sudah tidak ada yang tahu bahwa kebudayaan Banjar melahirkan kata yang unik, bersifat otokritik atas segala sikap, tindakan yang tidak memedulikan keadaan sekitar.





