INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Beberapa hari ini, berdasar pantauan terlihat di wilayah Banjarmasin terselimuti kabut asap. Asap ini terlihat mulai dari dini hari hingga ke pagi hari, saat orang-orang sudah mulai beraktivitas.
Menanggapi hal ini, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin, Husni Thamrin, menyampaikan asap-asap tersebut bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dalam kota. Sebab, tidak menemukan titik panas atau hotspot di wilayah ini.
Menurutnya, kondisi asap yang dirasakan warga merupakan dampak kiriman dari wilayah lain di sekitar Banjarmasin, seperti Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Barito Kuala.
“Bagian mana pun arah mata angin, Banjarmasin ini terkepung oleh asap kiriman,” terangnya saat diwawancarai di Kantor BPBD Banjarmasin, Rabu (19/8).
Catatan BPBD menunjukkan, ancaman kebakaran lahan di Banjarmasin mulai meningkat sejak pertengahan Juli 2026. Sejak 15 Juli hingga kini, tercatat 27 kejadian kebakaran lahan semak belukar, dengan total luasan sekitar 2,828 hektare.
Sampai kini pun, status Banjarmasin masih berada dalam “status kesiapsiagaan”. Masih aman, tidak sampai ke tahap status “siaga darurat”.
Namun, sekali lagi ia menegaskan bahwa di Banjarmasin tidak memiliki potensi titik api. Hanya titik kebakaran lahan skala kecil.
“Di sistem pantauan satelit pun Banjarmasin tidak terlihat tidak ada hotspot-nya,” ucapnya.
Pemerintah kota juga telah mengeluarkan Surat Edaran Wali Kota Nomor 100.3.4.3/094.Sekr/BPBD/IV/2026 pada 2 April 2026 silam. Isinya, mengatur tentang kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, antisipasi kekeringan, serta larangan membakar sampah dan lahan semak belukar.
Meski tidak terdapat hotspot, BPBD tetap meningkatkan kesiapsiagaannya, terutama di langkah preventif. Seperti halnya hari ini, BPBD Banjarmasin membagikan 1000 masker kepada masyarakat sebagai langkah antisipasi dampak asap.

Apabila tidak terdesak, ia mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah.
Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau berlangsung sekitar April hingga Oktober 2026. Namun, kondisi kemarau bisa berlangsung lebih panjang hingga lintas tahun, bahkan berpotensi sampai Februari 2027.





