INTERAKSI.CO, Banjarbaru — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak pada kesehatan warga Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Nani, warga Banjarbaru, mengatakan kabut asap yang terjadi kali ini merupakan yang terparah selama hampir 19 tahun tinggal di Kalsel.
Menurut Nani, kondisi asap paling pekat terjadi pada Rabu (19/08/2026) lalu. Asap bahkan membuat jarak pandang di sekitar rumahnya sangat terbatas.
“Selama saya tinggal di Kalsel, hampir 19 tahun. Kali ini yang paling parah, jarak pandang cuma beberapa meter. Kalau dulu sampai seberang sana masih bisa melihat, Rabu kemarin memang benar-benar parah,” ujarnya, Jumat (21/08/2026).
Keluhan serupa disampaikan Rara. Kabut asap yang pekat membuat matanya perih dan mengalami sesak napas.
“Hari ini kabut asapnya sangat tebal dan membuat mata saya perih, sesak napas juga jadinya. Kalau terus seperti ini yang sehat juga bakal sakit,” tuturnya.
Rara berharap penanganan karhutla di Kalsel dipercepat agar kabut asap tidak semakin meluas dan menimbulkan dampak kesehatan yang lebih besar.
Senada, Warga Landasan Ulin, Bani, juga merasakan langsung dampak asap terhadap kondisi tubuhnya. Ia mulai mengalami sakit tenggorokan ketika kabut asap muncul.
“Awal-awal kabut asap itu sudah terasa tidak enak tenggorokan saya, terus parahnya waktu hari Rabu itu. Depan rumah saja sudah tidak kelihatan. Terus asap masuk dalam rumah,” kata Bani.
Setelah asap masuk ke rumah, Bani mulai mengalami batuk hingga akhirnya harus berobat ke Puskesmas.
“Di situ mulai batuk-batuk dan akhirnya tumbang. Tapi sudah berobat ke Puskesmas dan sekarang alhamdulillah membaik,” ujarnya.
Berdasarkan data BPBD Kota Banjarbaru, hingga Kamis (20/8/2026) luasan lahan yang terdampak akibat karhutla sudah mencapai 969 hektare. Kasus terbanyak di Kecamatan Landasan Ulin, disusul Kecamatan Cempaka dan Kecamatan Liang Anggang.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Banjarbaru mencatat lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam dua pekan terakhir.
Minggu ke-30 misalnya, jumlah kasus ISPA mencapai 1.099 kasus. Angka itu melonjak dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat 879 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, dr. Siti Ningsih, mengatakan kenaikan kasus mulai terlihat sejak pertengahan Juli, seiring dengan maraknya karhutla.
“Untuk kasus ISPA pada minggu ke-30 sudah berada di angka lebih dari 1.000 kasus. Sebelumnya tercatat sekitar 870 kasus, dan minggu sebelumnya lagi sekitar 700 kasus,” kata Siti beberapa waktu lalu.
Menurut dia, paparan asap karhutla memiliki keterkaitan dengan gangguan pernapasan yang dialami warga. Keluhan yang muncul antara lain batuk, pilek, nyeri tenggorokan hingga sesak napas.
Kelompok yang paling rentan terdampak ialah anak-anak dan lansia. Risiko gangguan kesehatan juga lebih besar bagi warga yang memiliki riwayat asma dan penyakit paru kronis.
“Bagi warga yang memiliki riwayat asma dan penyakit paru kronis, risikonya bisa jauh lebih berat,” ujar Siti.
Data kumulatif Dinas Kesehatan Banjarbaru menunjukkan jumlah kasus ISPA sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 21.323 kasus. Kenaikan jumlah penderita mulai terlihat memasuki pertengahan Juli.
Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kabut asap terjadi. Warga juga diminta menggunakan masker saat bepergian dan menjaga daya tahan tubuh.
Dinas Kesehatan Banjarbaru mengingatkan masyarakat tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan selama kabut asap. Gejala ISPA umumnya diawali batuk dan pilek, kemudian dapat berkembang menjadi sakit tenggorokan hingga demam.





