Oleh: Puja Mandela
Seratulin, band pendatang baru dari Pagatan, Tanah Bumbu, mencoba peruntungan dengan merilis “Lara”, sebuah lagu folk-pop yang mudah masuk ke telinga siapa saja.
Menurut Nahdi, pemegang saham terbesar di Seratulin, Lara adalah tokoh penari yang ada di dalam cerita lagu tersebut. Namun, nama itu juga menciptakan ruang tafsir yang berlapis.
Lara bisa diposisikan sebagai nama tokoh, atau justru sebagai nasib yang melekat pada si penari. Sebelum masuk ke bebunyian dan pilihan liriknya, inilah hal terbaik dari lagu ini. Ia mampu menciptakan ruang tafsir dan membiarkan pendengarnya menafsirkannya sendiri.
Sayangnya, eksekusi penulisan liriknya tak sekuat gagasannya. Tak ada pilihan larik yang benar-benar mengejutkan. Semuanya terkesan mengalir begitu saja, tanpa ada bagian yang mendorong pendengar berpikir lebih jauh.
Simak saja lirik pada bagian chorus:
“Lara menari di bawah panas matahari.”
“Hujan tak menghentikan tubuhmu untuk terus bergerak.”
Kedua lirik itu sama-sama mengandalkan citraan yang sudah sangat lazim, panas matahari dan hujan sebagai metafora keteguhan. Memang terdengar akrab, tapi tidak cukup mengejutkan.
Sementara itu, bagian “Menarilah… menarilah… Lara” cukup bagus sebagai penutup chorus. Namun, di sisi lain, bagian tersebut juga terdengar klise.
Keputusan memasukkan unsur musik tradisional sebenarnya baik-baik saja. Namun, hasilnya belum terasa istimewa karena unsur tersebut terkesan hanya berfungsi sebagai hiasan. Jika part interlude musik tradisi itu dibuang, rasanya tak akan mengganggu cerita maupun keseluruhan lagu.
Meski begitu, Prima Yuda Prawira sebagai produser dan Nahdi sendiri sebenarnya berhasil meningkatkan potensi lagu ini ke level yang lebih baik. Vokal Damiat juga lumayan sebagai debutan. Yang penting, saat berada di wilayah folk, ia tak bernyanyi dengan cengkok ala Rezky Febian.
Sebagai pendatang baru, sejujurnya saya masih meragukan Seratulin. Pertanyaannya, apakah “Lara” hanya menjadi sajian pembuka untuk menu-menu lain yang lebih bergizi? Atau justru “Lara” hanyalah lagu bernuansa folk yang kebetulan diciptakan Nahdi cs.?
Keraguan itu semakin menguat ketika suatu hari saya bertemu Damiat bersama Nahdi dan Deddy saat Sangpeng sedang proses rekaman.
Saya bertanya, “Apa itu folk?”
Ia menjawab, “Tidak tahu.”
Sayang sekali. Padahal, jika ia memiliki satu jawaban yang bagus, saya mungkin akan memberinya puluhan pertanyaan lain. Misalnya, apakah ia mengenal Simon & Garfunkel dan pernah mencium tangannya?





