INTERAKSI.CO – Di balik kemampuan Claude menulis artikel, menjawab pertanyaan, hingga membantu menyusun kode pemrograman, tersimpan proses pelatihan yang tidak banyak diketahui publik.
Dokumen pengadilan di Amerika Serikat mengungkap bahwa perusahaan pengembang Claude, Anthropic, menjalankan sebuah proyek internal bernama Project Panama yang melibatkan digitalisasi jutaan buku fisik dengan cara memotong jilidnya agar dapat dipindai menggunakan mesin berkecepatan tinggi.
Fakta tersebut mencuat setelah gugatan hak cipta yang diajukan sejumlah penulis terhadap Anthropic membuka berbagai dokumen internal perusahaan. Dalam putusan yang dikeluarkan Hakim Federal William Alsup pada Juni 2025, terungkap bagaimana Anthropic membangun perpustakaan digital raksasa sebagai bahan pelatihan model kecerdasan buatannya.
Baca juga: Siswa Kelas 6 SD Asal Boyolali Raih Apresiasi NASA Usai Temukan Celah Keamanan Sistem
Membeli Buku, Memotong Jilid, Lalu Memindainya
Alih-alih meminjam atau memindai buku secara manual, Anthropic memilih membeli buku fisik dalam jumlah sangat besar, terutama buku bekas. Setelah dibeli, jilid buku dipotong sehingga setiap halaman dapat dipindai menggunakan perangkat pemindai industri dengan kecepatan tinggi.
Metode ini dikenal sebagai destructive scanning atau pemindaian destruktif karena buku tidak lagi dapat digunakan setelah proses digitalisasi selesai.
Melalui Project Panama yang dimulai pada awal 2024, Anthropic dikabarkan berhasil mengumpulkan jutaan buku menjadi arsip digital internal yang kemudian digunakan sebagai salah satu sumber pelatihan Claude.
Hakim Nilai Prosesnya Termasuk Fair Use
Dalam putusannya, Hakim William Alsup menyatakan bahwa penggunaan buku yang dibeli secara sah untuk keperluan pelatihan AI merupakan penggunaan yang bersifat transformatif atau fair use menurut hukum hak cipta Amerika Serikat.
Hakim bahkan mengibaratkan proses tersebut seperti seorang penulis atau murid yang membaca banyak buku untuk mempelajari gaya bahasa dan menghasilkan karya baru, bukan sekadar menyalin isi buku yang telah dibaca.
Namun, putusan tersebut tidak secara khusus melegalkan penghancuran buku. Fokus pertimbangannya adalah penggunaan salinan digital hasil pemindaian terhadap buku yang telah dibeli secara legal.
Kasus Buku Bajakan Tetap Menjadi Persoalan
Meski memperoleh angin segar terkait penggunaan buku fisik, Anthropic masih menghadapi persoalan lain dalam perkara yang sama.
Selama proses persidangan, terungkap bahwa sebelum menjalankan Project Panama, perusahaan tersebut sempat mengunduh jutaan buku digital dari berbagai sumber bajakan, termasuk Library Genesis (LibGen), Books3, dan Pirate Library Mirror.
Koleksi tersebut digunakan untuk melatih model AI generasi awal sebelum perusahaan membangun perpustakaan digitalnya sendiri.
Temuan inilah yang menjadi salah satu alasan gugatan para penulis terus berlanjut. Dengan kata lain, putusan mengenai fair use atas buku yang dibeli secara legal tidak otomatis menghapus persoalan hukum terkait penggunaan materi yang diperoleh dari sumber ilegal.
Menjadi Tonggak Baru Perdebatan Hak Cipta AI
Kasus Anthropic kini menjadi salah satu perkara paling penting dalam perdebatan mengenai hak cipta dan kecerdasan buatan. Untuk pertama kalinya, pengadilan memberikan pandangan yang relatif jelas mengenai penggunaan buku fisik sebagai bahan pelatihan AI.
Di sisi lain, perkara tersebut juga menunjukkan bahwa proses membangun model AI modern tidak hanya bergantung pada kecanggihan algoritma, tetapi juga pada akses terhadap data dalam jumlah sangat besar. Cara memperoleh data itulah yang kini menjadi sorotan utama, terutama ketika menyangkut karya-karya yang masih dilindungi hak cipta.
Seiring berkembangnya teknologi AI generatif, putusan ini diperkirakan akan menjadi salah satu rujukan penting bagi berbagai perusahaan teknologi, penerbit, maupun kreator yang tengah memperdebatkan batas antara inovasi dan perlindungan hak cipta.





