INTERAKSI.CO, Batulicin – Wilda Assyifa semringah. Pelajar yang pada 28 Desember nanti berusia 18 tahun itu menyabet juara pertama lomba menulis jurnalistik pada event Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur sekali. Pencapaian ini tentu tak luput dari doa dan usaha yang saya lakukan. Terima kasih juga untuk dukungan dari keluarga dan teman-teman,” katanya, kepada interaksidotco.
FLS3N 2026 yang digelar di SMAN 1 Karang Bintang, Senin (27/4) diikuti delapan peserta. Lewat tulisan berjudul “Aida Mawarni dan Dedikasinya untuk Kesenian Banjar”, ia berhasil mengungguli tujuh peserta lain.
Baca juga: Massorong Olo Puncaki Mappanre Ri Tasi’e 2026 di Pagatan
Juri lomba menulis jurnalistik, Puja Mandela, menilai tulisan Wilda Assyifa berhasil memenuhi sejumlah syarat untuk menjadi juara.
“Pertama, topik yang dipilih unik. Dia nggak cuma menulis soal tokoh masyarakat saja, tetapi ada nilai perjuangan, ada kerangka cerita yang menggugah, dan Wilda berhasil membuka tulisan dengan tepat. Tulisannya paling feature dari karya peserta lain,” ucapnya.
“Ada juga yang menulis soal tokoh budaya, tapi isinya seperti tulisan daftar prestasi. Tak ada cerita-cerita yang menggugah dan menginspirasi pembaca,” tambahnya.
Meski banyak typo dan struktur kalimat yang tak sempurna, tetapi Puja Mandela justru menilai karya itu ditulis dengan jujur oleh Wilda.
“Kalau pun ada kesalahan, tanda baca, misalnya, itu masih bisa ditoleransi. Karena yang paling utama adalah substansinya,” kata jurnalis yang juga musisi itu.
Puja Mandela kemudian memberikan catatan bahwa banyak peserta mengambil kutipan tak penting dari narasumber, tetapi Wilda adalah pengecualian. Wilda berhasil mengambil pesan dan nasihat agar Aida Mawarni, tokoh yang ditulisnya, bisa menjaga warisan seni dan budaya Banjar.
“Jadi, Wilda tidak cuma mengambil cerita dari satu sisi saja. Ia juga menyelipkan pesan dari ayah Bu Aida, tokoh utama dalam tulisan tersebut tentang kenapa budaya itu perlu dan penting dipertahankan. Ini membuat ceritanya lebih menggugah,” katanya.
Wilda pun mengakui jika tulisannya tidak sempurna. Tapi ketidaksempurnaan itu ia perkuat dengan banyak menggali data dari empat narasumber yang ia wawancarai. Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ulfa Nurwita, guru pembimbingnya yang mengajari teknis menulis feature.
“Saya memilih topik itu karena waktu diberi tahu lomba jurnalistik itu tema kebudayaan, langsung terbesit organisasi Laung Kuning. Karena satu-satunya organisasi masyarakat yang ada di Kusan Hulu, karena dekat dengan rumah saya,” kata alumni Kemah Jurnalistik PWI Tanah Bumbu itu.
Karena berhasil menyabet juara pertama, Wilda akan dikirim untuk mengikuti FLS3N tingkat Provinsi Kalimantan Selatan. Di sini, kemampuan Wilda akan diuji jauh lebih berat.
“Yang paling penting, Wilda harus terus melatih kepekaan, naluri, kecepatan berpikir, dan skill menulis yang efektif,” pesan Puja Mandela.
Sementara untuk juara kedua diraih oleh Ni Luh Ayu Sita Dewi dari SMAN 1 Karang Bintang dan Aisha Nathania Nur J dari SMAN 1 Satui.





