Harus diakui, timbre vokal Fazeloon sangat gurih bak rengginang. Dan yang paling penting, karakter vokalnya tetap maskulin meskipun lagu yang ia nyanyikan bertema cinta.

Oleh Puja Mandela

SETELAH menyimak “Akhir Kan Bahagia” dari Pentalima, ada dua orang yang layak saya puji lebih dahulu. Pertama adalah produsernya, Prima Yuda Prawira, dan yang kedua adalah vokalisnya, Muhammad Fazeloon. Untuk personel lainnya cukup mengisi absen.

Yuda sebagai produser berhasil meramu musik yang sebenarnya berisi diksi-diksi pop paling aman dan sudah umum kita dengar sejak 20-30 tahun lalu. Lirik seperti “permaisuriku” atau “kujaga hatimu, kau jaga hatiku” tentu sudah biasa di telinga pendengar musik pop.

Tapi karena racikan musiknya tepat, beat dan pilihan sound, termasuk suasana yang dibangun juga positif, “Akhir Kan Bahagia” berhasil menjadi karya pop yang tak punya dosa.

Barangkali hal itu juga tertolong dengan karakter vokal sang vokalis, Muhammad Fazeloon, yang kalau dicermati, tipis-tipis ada suara Ari Lasso di sana. Ya, seperti saat kita mendengarkan bagian chorus Roman Picisan yang juga ada suara Mas Lasso.

Harus diakui, timbre vokal Fazeloon sangat gurih bak rengginang. Dan yang paling penting, karakter vokalnya tetap maskulin meskipun lagu yang ia nyanyikan bertema cinta.

Kenapa saya nyenggol Ari Lasso dan Roman Picisan pada review ini, tentu karena saya tahu bahwa Fazeloon adalah Baladewa tulen. Ia mengakui itu blak-blakan. Dan itu bagus.

Seperti beragama, musisi memang harus punya kiblat. Kiblatnya pun harus jelas: musisi berpengaruh dan berprestasi. Kalau saja kemarin Fazeloon mengaku sebagai fans Armada atau d’Bagindas, mungkin review ini tak akan pernah saya tulis. Hehe…

“Akhir Kan Bahagia” adalah sebuah lagu pop tiga menit yang ringan, cerah, dan penuh optimisme. Untuk menikmati lagunya, kita tak perlu mikir dalam-dalam sembari memikirkan maksud di balik liriknya, tak perlu meluangkan waktu khusus, layaknya saat mendengarkan album OK Computer atau Kid A.

Dan, ya, lagu ini memang ditulis bukan untuk itu. “Akhir Kan Bahagia” merupakan sebuah lagu yang mudah dikenali dan mudah dinyanyikan bersama. Tinggal berikutnya adalah bagaimana Pentalima sebagai band bisa membangun karakter yang lebih kuat dan otentik, tak hanya di sisi musiknya saja, tetapi juga pada bagian liriknya yang sejauh ini masih bermain di zona aman.

Karakter ini penting. Karena kalau boleh jujur, Pentalima berada di wilayah yang beririsan dengan band-band pop lain seperti Senja Djingga, Reunion, dan sejumlah musisi Tanah Bumbu lain yang sama-sama mengunyah referensi pop era 1990 sampai 2000-an.

Tapi debut single ini sudah cukup bagus. Vokal Fazeloon sangat menonjol. Dan ternyata itu juga sudah dikondisikan oleh produsernya, Yuda.

Kalau saya tak salah ingat, dia bilang bahwa musik dari band ini tak boleh ‘mengalahkan’ vokalnya. Menurut saya memang begitu. Jangan ada personel lain dari Pentalima yang coba-coba lebih dominan dari Fazeloon yang selain jadi motor band, ia juga seorang Baladewa garis keras.

Pesan saya untuk personel Pentalima, nggak usah mencoba lebih menonjol dari vokalisnya. Biarkan dia bernyanyi dan memimpin dari depan. Yang lain menguatkan dan mendorong dari belakang.

Sisanya, waktulah yang akan menguji, apakah Pentalima benar-benar menjadi band ‘beneran’, atau hanya sekelompok pria gabut yang numpang lewat di skena musik Tanah Bumbu dan Kalimantan Selatan.

*

Penulis adalah jurnalis, musisi, dan pria satu istri.

Author