INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Manchester United kembali menelan pil pahit di kompetisi domestik. Kekalahan 1-2 dari Brighton & Hove Albion pada babak ketiga Piala FA memastikan langkah Setan Merah terhenti bahkan sebelum turnamen benar-benar berjalan jauh.
Lebih dari sekadar kekalahan, hasil ini menandai terulangnya rekor buruk yang terakhir kali dialami klub 44 tahun lalu.
Kekalahan tersebut membuat Manchester United tersingkir dari Piala FA pada laga pertama yang mereka mainkan.
Situasi ini terasa semakin menyakitkan karena sebelumnya MU juga sudah angkat koper dari ajang Piala Liga, atau Carabao Cup, dengan skenario serupa: kalah di pertandingan perdana.
Baca juga: Mesir Singkirkan Juara Bertahan Pantai Gading dan Melaju ke Semifinal Piala Afrika 2025
Di Piala Liga, MU harus mengakui keunggulan Grimsby Town lewat adu penalti pada babak kedua. Dua kompetisi domestik, dua laga pertama, dua kekalahan.
Data dari Opta mencatat, MU baru kembali mengalami situasi seperti ini sejak musim 1981/1982—sebuah catatan yang menegaskan betapa rapuhnya performa klub musim ini.
Dampaknya tidak berhenti pada statistik. Tersingkirnya MU dari Piala FA dan Piala Liga secara otomatis mempersempit peluang mereka untuk mengangkat trofi musim ini. Praktis, satu-satunya kompetisi yang tersisa hanyalah Liga Inggris. Namun, harapan itu pun terlihat nyaris mustahil.
Saat ini, MU tertinggal 17 poin dari pemuncak klasemen, Arsenal. Selisih tersebut mencerminkan jurang kualitas dan konsistensi yang cukup lebar. Sepanjang musim berjalan, Manchester United kerap menunjukkan performa yang naik turun, sehingga sulit bersaing di papan atas klasemen.
Situasi MU semakin rumit karena mereka juga tidak tampil di kompetisi Eropa musim ini. Finis di peringkat ke 15 Liga Inggris pada musim lalu menjadi penyebab utama absennya MU dari panggung kontinental, sebuah kondisi yang jarang terjadi dalam sejarah klub.
Di luar lapangan, kondisi internal klub juga belum stabil. Manchester United sedang berada dalam masa transisi kepelatihan. Ruben Amorim baru saja meninggalkan posisi manajer, dan untuk sementara waktu tim ditangani oleh Darren Fletcher sebagai pelatih interim.
Dengan tekanan hasil, minimnya target realistis, serta ketidakpastian arah tim, musim ini berpotensi menjadi salah satu periode paling sulit bagi Manchester United. Bukan hanya tanpa trofi, tetapi juga tanpa kejelasan masa depan jika perbaikan tidak segera dilakukan.




![[Review] Wildoze dan Angka 27](https://interaksi.co/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260226-WA0014-218x150.jpg)
