INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Pelatihan Penulisan Buku Berbantuan Kecerdasan Artifisial (AI) yang dipandu Sainul Hermawan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berakhir pada Kamis (9/7).
Mayoritas peserta memberikan apresiasi terhadap materi, metode pelatihan, serta manfaat yang diperoleh selama tiga hari kegiatan.
Sadang Husain, dosen Fisika, menilai narasumber memiliki penguasaan materi yang sangat baik. “Pemahaman narasumber sangat mumpuni dalam memberikan pelatihan AI,” ujarnya.
Penilaian serupa disampaikan dosen Fisika lainnya, Sudarningsih, yang menyebut pelatih sangat kompeten. Ninis Hadi Haryanti juga mengapresiasi pelatihan tersebut dan berharap seluruh peserta segera menerbitkan buku hasil pendampingan.
Baca juga: FMIPA ULM Gandeng Scripta Cendekia Latih Dosen Menulis Buku dengan AI
Sebanyak 19 peserta mengisi lembar refleksi pada akhir pelatihan. Seluruh peserta memberikan nilai 4 atau 5 pada skala lima tingkat. Aspek relevansi materi dan peningkatan pengetahuan tentang AI masing-masing memperoleh nilai rata-rata 4,74, sedangkan keterampilan menyusun prompt memperoleh nilai rata-rata 4,58.
Peserta berasal dari enam program studi di FMIPA ULM. Program Studi Fisika mengirim delapan peserta, disusul Biologi dan Ilmu Komputer masing-masing tiga peserta, Farmasi dua peserta, serta Matematika dan Statistika masing-masing satu peserta.
Sebanyak 17 peserta telah menyiapkan judul buku yang akan dikembangkan. Mayoritas berupa buku ajar dan monograf berbasis riset lahan basah Kalimantan, di antaranya Fisika Material Korosi di Lingkungan Lahan Basah, Buku Ajar Flora Kalimantan, dan Kemagnetan Lingkungan Sungai.
Hasil refleksi juga menunjukkan preferensi peserta terhadap platform AI. Sebanyak 10 peserta memilih lebih sering menggunakan ChatGPT, tujuh memilih Claude, dan dua memilih Gemini.
Nofi Utari dari Biologi mengaku memilih ChatGPT karena sudah terbiasa menggunakannya sehingga hasil yang diperoleh dinilai lebih sesuai dengan kebutuhannya. Ratu Weridyaningrum juga mempertimbangkan faktor biaya yang lebih terjangkau.
Sementara itu, peserta yang memilih Claude menilai platform tersebut lebih sesuai untuk penulisan akademik. Sudarningsih menyebut Claude lebih cocok digunakan untuk penyusunan karya ilmiah. Pendapat senada disampaikan Nurlina yang menilai Claude lebih sesuai dengan kebutuhan akademisi.
Tetti Novalina Manik dari Magister Fisika mengaku menggunakan ChatGPT, Claude, dan Gemini untuk memvalidasi analisis data. Namun, ia merekomendasikan Claude untuk penyusunan laporan dan penulisan buku. Adapun Nur Wahidiyatil Jannah dari Matematika menyatakan masih menggunakan ChatGPT karena sudah terbiasa, tetapi berencana mencoba Claude setelah mengikuti pelatihan.
Meski mayoritas peserta memberikan apresiasi, beberapa di antaranya menyampaikan masukan untuk penyelenggaraan berikutnya. Hameda Dhaka Kusuma Taufiq dari Biologi mengusulkan agar pelatihan dilaksanakan secara luring selama dua hari, kemudian dilanjutkan satu hari pendampingan tugas. Nofi Utari berharap materi diperluas hingga mencakup penyusunan outline, layouting, dan proofreading berbantuan AI. Sementara itu, M. Ikhwan Najmi dari Fisika mengusulkan agar perbedaan karakteristik setiap platform AI dijelaskan lebih mendalam.
Aspek etika akademik juga menjadi perhatian peserta. Hameda mengingatkan bahwa AI dapat membantu pekerjaan, tetapi pengguna tetap harus bijak dan melakukan parafrase. Dewi Sri Susanti dari Statistika mengaku pelatihan membuatnya lebih produktif menulis dengan tetap menjaga etika akademik. Ratu Weridyaningrum menegaskan pemanfaatan AI dalam penulisan buku harus mengikuti prinsip etika penggunaan AI.
Selain itu, peserta berharap pelatihan lanjutan dapat membahas cara menjaga konsistensi jawaban AI, pengolahan data numerik dan grafik, penyusunan peta kompetensi mata kuliah, serta penulisan jurnal internasional berbantuan AI.
Okta Muthia Sari dari Farmasi menutup refleksinya dengan harapan agar pelatihan serupa kembali diselenggarakan. “Sangat baik kegiatannya, semoga ada lagi,” ujarnya.





