WILDOZE, band hardcore asal Batulicin, Kalimantan Selatan membawa “Kabar Buruk” lewat single keduanya. Sejak awal, raungan kemarahan sudah sangat tergambar dari distorsi dua gitaris, Danar Agiputra dan Abde Syahrian.

Tanpa mencermati liriknya, lagu ini berpotensi hanya terdengar seperti barisan musisi underground yang asik sendiri dan tidak terlalu butuh pendengar. Tapi setelah lebih dari lima kali menyimak lagunya, “Kabar Buruk” layaknya ekspresi kemuakan terhadap kelakuan manusia modern yang penuh absurditas. Kata “Biadab!” dan “Keparat!” mungkin yang terdengar paling menyalak.

Tapi kejelasan vokal bisa jadi tak terlalu dibutuhkan, sebab teriakan-teriakan itu sudah sangat menggambarkan kemuakan yang ingin mereka sampaikan. Di luar itu, Arifin Khrl menampilkan performa vokal yang bertenaga dan jauh lebih ekspresif dibanding single perdana mereka “27”.

“Setan pun memuja kelakuan manusia!” adalah kalimat yang sudah sangat menggambarkan perilaku manusia akhir zaman. Tak perlu banyak penjelasan, kita pun tahu apa maksudnya. Sebagai penulis lirik, Arifin nampak sadar betul apa yang harus ia lakukan untuk membuat lagu ini terdengar provokatif dan melekat di telinga.

Lagu ini punya dinamika yang menarik, terutama pada cara Danar dan Abde memainkan gitarnya. Simak saja perubahan suasana yang mereka lakukan. Saya kira mereka berhasil, sehingga pendengar tidak disajikan menu yang itu-itu saja. Semoga dalam proses produksi mereka nggak pakai stuntman. Lalu, struktur lagunya juga nggak monoton. Itu membuat karya ini selalu punya hal baru untuk dimuntahkan kepada pendengarnya.

Lewat “Kabar Buruk”, Wildoze makin memperkuat  identitas yang sudah mereka bangun di single perdana “27”. Berbagai emosi dan kemuakan berhasil mereka tumpahkan dengan brutal, meski sejujurnya saya masih ingin melihat Wildoze tampil lebih liar, lebih berbahaya, seperti kriminal yang hidup mengais rokok dari jalanan, tidur berpindah tempat dari pasar ke pelabuhan, dan mati ditembak di tengah jalan sambil mengacungkan jari tengah.

Author