INTERAKSI.CO – Walau konflik sudah berlalu puluhan tahun, namun trauma atas peristiwa yang begitu dahsyat, masih tergiang dalam ingatan.
Dian Interfidei Yogyakarta, bekerjasama dengan 3 Sekolah Tinggi berbasis agama, yaitu STT GKST Tentena, STAI Poso dan STAH Palu, menyelenggarakan satu kegiatan, bertajuk “Perjumpaan, Dialog dan Belajar Bersama”, berlangsung dari tanggal 26 hingga 29 Oktober 2026 di STT GKST Tentena, Sulawesi Tengah.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap lahir generasi muda antar iman, mereka saling bertemu, berkenalan, berbagi pemikiran dan pengalaman, serta membangun harapan bersama, agar masan depan menjadi lebih damai, baik bagi Poso, Sulawesi Tengah, maupun bagi Indonesia secara umum,” kata Elga Sarapung, Direktur Dian Interfidei Yogyakarta.
Sekitar 170 mahasiswa, utusan dari 3 Sekolah Tinggi hadir di aula STT GKST Tentena, mengikuti kuliah umum, menghadirkan 3 narasumber, mewakili 3 agama, yaitu Dr Suleman Mapiasse, mewakili Islam, dosen IAIN Manado. Pdt. Dr. Asyer Tandapai, mewakili Kristen, sekaligus Ketua STT GKST Tentena. Dan I Wayan Suartama, mewakili Hindu, Pembimas Hindu di Poso.
Kuliah umum yang memaparkan terkait kedatangan agama-agama di tanah Poso, termasuk Tentena, dipandu moderator Liliane Mojau, dosen STT GKST Tentena.
Sementara untuk proses dinamika peserta yang berlangsung selama 4 hari, difasilitasi Elga Sarapung, Dian Interfidei dan Noorhalis Majid dari Banjarmasin.
Dalam sambutan pembukaan, Bupati Poso, yang dibacakan Kepala Perpustakaan dan Arsif Poso, Markus Wutabisu, menyambut gembira kegiatan yang telah digagas Dian Interfidei bersama 3 Sekolah Tinggi berbasis agama.
Dia mengatakan, “Poso pada dasarnya daerah damai, hanya karena ada kepentingan pihak tertentu maka kemudian menjadi tidak damai. Sebab itu, perlu lahir generasi yang lebih peka, lebih tahan dari berbagai gangguan apapun yang menyebabkan dan membuat tidak damai. Pelatihan ini bagian dari mengupayakan lahirnya generasi-generasi seperti itu”.
Selain sambutan Bupati Poso, juga ada prakata dari Ketua FKUB Poso, Faried Awad, yang memaparkan dinamika dan potret masyarakat Poso, yang menurutnya sangat cinta damai, bahkan bangunan kesadaran akan perbedaan, telah ada sejak nenek moyang dahulu kala.
“Tempat ini paling damai di dunia, karena ditopang oleh kebudayaan yang sangat kuat dalam menjaga kedamai,” kara Faried Awad.
“Berbagai diskusi diantara semua mahasiwa yang terlibat, bagian dari dialog yang sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran bersama, kepedulian, saling memahami dan menghargai, semoga setelah ini akan ada kegiatan-kegiatan lanjutan yang dapat mengikat kebersamaan mereka. Kita butuh generasi yang lebih damai dan menghargai perbedaan,” kata Noorhalis Majid, fasilitator kegiatan.
Materi tentang sejarah masuknya agama-agama di Poso, membuka kesadaran seluruh peserta bahwa agama-agama tersebut datang bukan di ruang hampa, tapi datang di masyarakat yang sudah beradab melalui kebudayaan lokal, tradisi dan adat istiadat yang sudah berumur ratusan tahun.
“Semua agama sebagai pendatang di tanah Poso, sebab itu jangan ada yang merasa paling berhak, paling dominan. Mari kita bangun kebersamaan, untuk saling menghargai dan menguatksan satu sama lainnya,” kata Dr Suleman Mapiasse.
Sementara itu I Wayan Suartama, mengatakan bahwa Hindu juga merupaka agama misi, walau jarang terungkap. Sebab itu agar tidak terjadi benturan, perlu dialog dan perjumpaan seperti ini untuk saling memahami.
Pdt. Dr. Asyer Tandapai, banyak memaparkan sejarah dan budaya Poso, termasuk budaya suku-suku yang mendiami tanah Poso. Menurutnya, semua budaya tersebut, termasuk yang tercermin dari bentuk bangunan dan upacara-upacara, mencerminkan penghargaan dan penghormatan pada perbedaan.
“Telah terjadi pembauran agama dengan budaya, hal tersebut dianggap biasa dan sudah mengakar,” kata Dr Asyer Tandapai.
Kegiatan perjumpaan ini juga akan mengajak seluruh peserta untuk mengunjungi kampus-kampus berbasis agama, serta tempat ibadah dari berbagai agama. Tujuannya agar semakin memahami bahwa perbedaan harus dirawat secara bersama-sama.





