Oleh: Noorhalis Majid

Beberapa hari berada di Palu, Poso dan Tentena, ada hal yang membuat saya tercengang campur kagum, yaitu mendengar berbagai cerita dan kebanggaan warga mengenai program berani cerdas yang digagas Anwar Hafid, Gubernur Sulawesi Tengah.

Program ini berfokus pada perluasan akses pendidikan gratis yang merata bagi seluruh warga di Sulawesi Tengah.

Tanpa banyak publikasi, program berani cerdas, berorientasi masa depan, mencetak sumber daya manusia mumpuni, dalam rangka menjawab tantangan zaman.

Pendidikan gratis untuk SMA, SMK dan SLB, baik negeri maupun swasta. Bantuan beasiswa kuliah dari S1 hingga strata lanjut ke jenjang S2 dan S3, dengan cara pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang langsung dibayarkan ke perguruan tinggi.

Bukan main, tahun 2026 ini saja, anggaran untuk Program Berani Cerdas lebih dari Rp 355 milyar. Dana tersebut dikucurkan untuk mendukung puluhan ribu penerima manfaat, termasuk 22 ribu penerima lanjutan tahun sebelumnya, dan lebih dari 25 ribu penerima baru, dikerjasamakan dengan berbagai perguruan tinggi ternama.

Artinya, Anwar Hafid menganggarkan dana untuk beasiswa beratus-ratus milyar dalam setahun dan sangat dirasakan manfaatnya bagi seluruh warga.

Prinsip pelaksanaan, dilakukan secara transparan, tidak boleh ada pungutan liar. Penyaluran dana, langsung ditujukan pada institusi pendidikan, tempat penerima menjalani pendidikan.

Saya tercengang, karena daerah-daerah kaya sumber daya alam, yang eksploitasinya gegap gempita, bahkan membabi buta, tidak berani memberikan beasiswa untuk warganya secara penuh, hingga jejang pendidikan tinggi lanjut seperti S2 dan S3.

Kalau sumber daya alam habis, tidak ada penopang sumber daya manusia yang mumpuni, akhirnya semua sumber daya habis, dan kemiskinan akan menanti.

Sumber daya alam yang melimpah, hanya dinikmati segelintir orang kaya dan penguasa, warga hanya menjadi penonton, menjadi penerima debu, banjir, kekeringan dan asap.

Banyak daerah kaya sumber daya alam, tetapi mental pemimpinnya miskin, tidak punya keberpihakan pada warga.

Minimal seorang pemimpin berani meniru Anwar Hafid, memberikan beasiswa kepada warga, agar kelak lahir sumber daya manusia mumpuni, karena berhasil menempuh pendidikan hingga ke jenjang yang paling tinggi.

Kabarnya, Anwar Hafid bukan hanya meluncurkan Program Berani Cerdas, tapi juga Program Berani Sehat, dengan memberikan layanan kesehatan gratis; Berani Lancar, dengan membangun konektivitas wilayah; Berani Menyala, dengan pemerataan engergi, memanfaatkan panel surya, dan sebagainya; Berani Panen Raya, dengan mengupayakan kedaulatan pangan; Berani berintegritas, dengan melakukan reformasi birokrasi agar bersih dan melayani; serta berbagai program berani lainnya. Ia seperti mengajak warga berlari kencang, mengejar ketertinggalan.

Keberanian Anwar Hafid selaku gubernur, layak diapresiasi dan dicontoh.

Semestinya begitulah kepala daerah, tugasnya menjawab persoalan paling mendasar.

Salah satu persoalan tersebut tentu saja pendidikan dan kesehatan.

Kalau kedua hal tersebut diperhatikan dengan serius, keberadaan kepala daerah ada manfaatnya bagi warga.

Sebaliknya, bila tidak memperhatikan hal-hal paling mendasar, lebih baik tidak perlu ada kepala daerah, sebab hanya menjadi beban atas segala kelakuan dan tindakannya yang tidak berfaedah.

Author