INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan menimbulkan dampak yang melampaui persoalan kabut asap. Kajian cepat kebencanaan memperkirakan nilai kerusakan dan kerugian akibat bencana tersebut mencapai Rp12,15 triliun.
Estimasi itu tercantum dalam kajian per 18 Oktober 2026 yang disusun Analis Kebencanaan Ahli Muda Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abriveno YL Pitoy.
Kajian tersebut menghitung kerusakan langsung terhadap aset lingkungan serta kerugian ekonomi tidak langsung akibat terganggunya berbagai aktivitas masyarakat. Nilai yang dihasilkan masih berupa estimasi dan perlu dibaca sesuai asumsi serta metode perhitungan yang digunakan.
Baca juga: PM2.5 Kalsel Tembus Level Berbahaya, Akademisi ULM Soroti Mitigasi Super El Nino
Hingga pertengahan Oktober 2026, luas hutan dan lahan yang tercatat terbakar di Kalimantan Selatan mencapai 14.080,30 hektare. Dari jumlah tersebut, 10.142,30 hektare merupakan lahan mineral, sedangkan 3.938 hektare lainnya berupa lahan gambut.
Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 7.054,12 hektare. Angka tersebut terdiri atas 5.014,12 hektare lahan mineral dan 2.040 hektare lahan gambut.
Kabupaten Tapin berada di urutan berikutnya dengan luas 3.000,22 hektare, terdiri atas 1.850,22 hektare lahan mineral dan 1.150 hektare gambut.
Adapun Kota Banjarbaru mencatat luas kebakaran 2.539 hektare, dengan rincian 2.124 hektare lahan mineral dan 415 hektare gambut. Kebakaran juga tercatat di Kabupaten Tanah Laut seluas 817,50 hektare serta Hulu Sungai Selatan 343,15 hektare.
Kerusakan Lingkungan Jadi Komponen Terbesar
Kajian menggunakan pendekatan Damage and Loss Assessment (DaLA) untuk membedakan kerusakan langsung dengan kerugian ekonomi tidak langsung akibat bencana.
Pemetaan area terbakar dilakukan menggunakan teknologi penginderaan jauh melalui citra Sentinel-2 dan Landsat-8. Analisis tersebut memanfaatkan indeks Normalized Burn Ratio (NBR) dan Differenced Normalized Burn Ratio (dNBR) untuk mengidentifikasi area terdampak kebakaran.
Dari total estimasi Rp12,15 triliun, sekitar Rp9,23 triliun atau 75,97 persen disebut berasal dari kerusakan langsung terhadap aset lingkungan.
Komponen yang diperhitungkan meliputi kerusakan keanekaragaman hayati, vegetasi perkebunan dan tanaman industri, serta fungsi hidrologis lahan gambut. Kerusakan keanekaragaman hayati disebut menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam perhitungan tersebut.
Kerusakan pada perkebunan rakyat, hutan tanaman industri (HTI), serta vegetasi sawit dan karet di lahan mineral ditaksir mencapai sekitar Rp2,03 triliun. Adapun kerusakan fungsi hidrologis di bawah permukaan gambut diperkirakan sekitar Rp772,24 miliar.
Angka-angka tersebut menggambarkan potensi kerugian ekologis akibat kebakaran, termasuk kerusakan vegetasi dan terganggunya fungsi lingkungan. Namun, besaran nilai setiap komponen tetap perlu mengacu pada metode valuasi dan asumsi yang digunakan dalam kajian.
Kesehatan dan Pendidikan Ikut Terdampak
Selain kerusakan lingkungan, kajian memperkirakan kerugian ekonomi tidak langsung mencapai Rp2,92 triliun. Perhitungan tersebut mencakup dampak terhadap kesehatan, pendidikan, pariwisata, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), transportasi, emisi karbon, serta pengeluaran penanganan darurat.
Dalam bahan kajian, sebanyak 18.423 orang tercatat mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dampak kesehatan tersebut ditaksir mencapai sekitar Rp710 miliar berdasarkan asumsi biaya penanganan yang digunakan dalam perhitungan.
Sektor pendidikan juga masuk dalam penilaian. Pembelajaran jarak jauh selama 28 hari aktif sekolah disebut berdampak terhadap 1.111.111 anak sekolah, dengan estimasi kerugian sekitar Rp140 miliar.
Di sektor pariwisata dan UMKM, gangguan aktivitas selama 50 hari secara akumulatif diperkirakan menekan pendapatan hingga Rp120 miliar. Sebanyak 4.800 UMKM, termasuk yang bergerak di bidang kerajinan purun, sasirangan, dan kuliner, disebut mengalami penurunan omzet transaksi hingga 50 persen.
Aktivitas wisata sungai dan Pasar Terapung di Banjarmasin juga dilaporkan terdampak akibat terbatasnya jarak pandang. Gangguan serupa disebut terjadi di objek wisata hutan kota di Banjarbaru serta kawasan konservasi bekantan di Kabupaten Banjar dan Tapin.
Sektor transportasi turut masuk dalam perhitungan. Kajian mencatat 184 penundaan dan pembatalan penerbangan, dengan estimasi kerugian transportasi dan logistik sekitar Rp90 miliar. Sementara itu, pengeluaran untuk penanganan darurat dan pemadaman disebut mencapai Rp390 miliar.
Perhitungan Masih Perlu Diverifikasi
Kajian tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan luas lahan yang terbakar, tetapi juga mencakup kerusakan ekosistem dan gangguan terhadap kehidupan masyarakat.
Meski demikian, angka Rp12,15 triliun perlu dipahami sebagai estimasi berdasarkan data dan asumsi perhitungan yang digunakan. Verifikasi terhadap setiap komponen diperlukan untuk memastikan kesesuaian nilai kerusakan dan kerugian dengan satuan, metode valuasi, serta kondisi faktual di lapangan.
Hasil kajian yang terverifikasi dapat menjadi salah satu dasar untuk menyusun langkah pemulihan, menentukan prioritas penanganan, serta memperkuat upaya pencegahan agar dampak karhutla tidak terus berulang di Kalimantan Selatan.





